Home / Sharing / Pengalaman / Tradisi orang Betawi pergi Haji (1)

Tradisi orang Betawi pergi Haji (1)

Sebarkan:

Ya Allah ya Robbi

Cari untung yang lebi

Biar bisa pegi haji

Jiarah kuburan nabi nabi

 

Catatan hati saya menuju tanah suci akan diawali dengan masa kecil saya di tahun 1960 an  dan tradisi orang Betawi pergi haji. Tentu ada  alasannya. Sungguh bagi saya tradisi ini sebagai motivasi awal betapa  saya ingin  menjadi tamu Allah. Orangtua saya berasal dari Solo tapi kami tinggal di lingkungan orang Betawi. Kami sebagai pendatang mendapat julukan orang Jawa kowek yang ngendon di Jakarta. Orang Betawi walau kadang bicaranya nyelekit pada prinsipnya mereka sangat baik kebanyakan dari mereka memiliki sifat ikhlas dan tidak kikir.

 

Konon kata “Betawi” itu plesetan dari nama Batavia kota yang berada di pinggir teluk Jakarta. Ada juga yang mengatakan Betawi itu berasal  dari kata “Bataav”. Sedangkan yang lebih konyol lagi ada yang mengatakan bahwa kata “ Betawi “ berasal dari “mambet tahi”  yang artinya bau kotoran. Hal ini berdasarkan kisah perang yang dialami antara antara pasukan Mataram dan Kompeni berperang. Karena sisa kompeni tinggal beberapa orang persediaan peluru juga sudah menipis, salah satu dari Kompeni itu mengambil kotoran manusia lalu memasukkan ke dalam panci, lalu kotoran tersebut dilemparkan kepada pasukan Mataram yang berada di luar tembok sehingga mereka menjauh dan berteriak “Mambet tahi” !, Mambet tahi! Sejak itu Batavia sering disebut Betawi.

 

Keluarga kami bergaul dengan orang Betawi dengan baik. Kehidupan dan tradisi orang Betawi sangat mewarnai masa kecil saya. Hampir semua tradisi yang ada di Betawi bisa saya amati. Ada tradisi pernikahan, khitanan, kematian, kelahiran, ajang silahturahmi, makanan khas, mencari hiburan dan juga ritual keagamaan orang Betawi yang sangat agamis ikut mewarnai kehidupanku dalam beragama.

Saya masih ingat ketika di siang hari tetangga kami datang ke rumah. Kebetulan Ibu tidak ada jadi saya yang menemuinya.

Salamualaikum. Ibu ade Neng,?” terdengar suara seorang perempuan  memasuki teras rumah.

“ Ibu belum pulang Nyak Haji,”jawab saya spontan.

Oh. Tolong sampein aje ye Neng, minggu depan diajak nonton penganten. Si Dijeh anak perawan nyak Haji udeh ketemu jodonye.”

Iye Nyak Haji, ntar aye sampein. Nanggap orkes melayu apa layar tancep Nyak Haji?” Tanya saya ingin tahu.

“Orkes Melayu. Pan calon lakinye Dijeh emang demen banget orkes Melayu,”jelas nyak Haji

 

Masa kecil hingga masa remaja saya memang kental tradisi yang ada di Betawi. Saya juga larut dengan kegiatan agama yang sering diadakan oleh kelompok atau majlis ta’lim yang ada di sekitar rumah. Saya sering ikut ibu saya atau tetangga sebelah rumah yang asli orang Betawi menghadiri banyak pengajiaan yang diadakan pada tiap perayaan hari besar umat Islam. Moment Maulid Nabi, Isra Mi’raj, Nuzurul Quran, atau perayaan lain dimana sering mendatangkan ustadz dan ustadzah ternama saat itu seperti Habib Umar, Habib Abdullah Syafei ayah dari Ustadzah kondang Tuty Alawiyah, dan juga Ustadzah Royani

 

Siang hari kesibukan di setiap rumah akan tampak. Begitu juga dengan kesibukan di masjid tempat diadakannya perayaan. Mereka sibuk menghias masjid dan menata tempat yang akan digunakan untuk perayaan malam itu. Semua bersemangat sehingga terlihat kerukunan di antara warga dan jamaah pengajian itu.

Udeh beres semua kan! Konsumsi sama perlengkapan lain dah siap belon,?”tanya Bang Dullah salah satu pengurus masjid itu.

“ Lah udeh rapi jali Bang. Inshaallah tar malem ngga ujan jadi yang datang banyak dan meriah.”

“Amin.” Serentak yang sedang duduk menghias podium mengamini.

 

Perayaan hari besar Islam jadi agenda yang saya tunggu karena ada perasaan kagum dan termotivasi dengan inti pengajian yang beliau berikan. Dalam acara tersebut unsur kebersamaan dari warga atau jamaah sangat terasa terutama dalam menyiapkan tempat, makanan, minuman dan akomodasi untuk ustadz dan ustadzah yang diundang. Perayaan ini biasanya melibatkan seluruh warga atau jamaah masjid tersebut.

Ucapan salawatan bergitu melekat di hati saya;

 

Ya Nabi salam Alaika

Ya Rasul salam Alaika

Ya Habib salam Alaika

Shalawatullah Aalaika

 

Tiap keluarga diminta untuk membawa nasi uduk, nasi ulam, aneka jajanan ada kue bugis, cucur, kue talam, kue jongkong dan makanan lain yang khas Betawi lainnya.

Sejak itu saya punya motivasi dan pemahaman bahwa ketika kita mengaji ada malaikat yang hadir dan mencatat kegiatan kita saat itu. Malaikat juga ikut mendoakan orang yang sedang mengkaji Al Quran atau berada di jalan Allah supaya mendapat kemudahan dan kemuliaan di dunia maupun di akherat.

 

Tradisi orang Betawi pergi haji dengan tata caranya juga keunikannya sangat membekas di hati saya yang kala itu baru klas 2 SR. (sekolah rakyat ). Sedang sore hari saya belajar mengaji. Saat itu pergi haji sudah menjadi prioritas utama orang Betawi karena pendidikan agama yang diberikan orangtua cukup kuat sehingga tertanam di hati mereka untuk bisa menyempurnakan rukun Islam. Orang Betawi yang mapan tidak ada masalah dengan biaya pergi haji, ia menyegerakan ibadah haji bahkan berulang ulang. Sedangkan orang Betawi yang status ekonominya tidak terlalu tinggi juga punya obsesi yang sama untuk segera bisa pergi haji.

 

Pergi haji membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mereka harus naik kapal laut dan istilah orang Betawi “ pegi belayar” selama 6 bulan. Di tahun 60-70 an ketika pembangunan kota Jakarta berkembang pesat ini saat yang paling menguntungkan bagi orang Betawi terutama mereka yang memiliki lahan luas. Terjadi penggusuran dan harga tanah pekarangan merangkak naik. Dari hasil penjualan tanah mereka bisa mewujudkan niatnya pergi haji. Mereka segera membelanjakan uangnya untuk membeli “Qutum”  sepadan artinya dengan tiket pergi haji. Atau istilah sekarang langsung mendaftar haji.

 

astutiana

Check Also

kakbahmalamhari

Rinduku Jadi Tamu Allah (3) selesai

Tak terasa waktu 4 tahun akhirnya terlewati, saya lulus S1 (strata 1 ) dengan nilai ...

Comments

Tinggalkan Balasan

//