Home / Sharing / Pengalaman / Tradisi Orang Betawi Pergi Haji (2)

Tradisi Orang Betawi Pergi Haji (2)

Sebarkan:

Orang Betawi sangat kuat keinginannya dalam berhaji, ada semacam kepuasan dan kebanggaan tersendiri karena masyarakat atau lingkungan otomatis akan memberi gelar Haji atau Hajjah setelah mereka selesai menunaikan ibadah haji. Orang Betawi punya jiwa dan semangat yang luar biasa untuk pergi haji. Mereka punya prinsip orang meninggal itu tidak membawa harta benda tapi yang akan dibawa adalah amal saleh ketika hidup di dunia seperti yang diajarkan dalam agama Islam. Jadi bagi mereka menjual tanah untuk melakukan ibadah haji tidak masalah karena itu merupakan sarana mencapai tujuannya menyempurnakan ibadahnya.

Pak Haji Ali tetangga saya salah satu contoh sekaligus tokoh orang Betawi yang saya kagumi. Ia seorang Betawi asli yang kaya raya dengan kebunnya yang luas, memiliki rumah kontrakan yang cukup banyak. Kami juga bergaul akrab dengan anak anak Pak Haji Ali yang punya sembilan anak dari dua istri yang mereka nikahi.

Saat yang paling menyenangkan bagi saya  ketika panen buah  musiman datang, ada  jambu dan belimbing, saya dan anak anak lain bisa bebas sepuasnya memetik, dan memakan hasil panen buah itu, dari mulai yang ranum, setengah matang, atau yang masih muda. Pak Haji membolehkan kami mengambilnya dan membawa pulang secukupnya.

Pak Haji Ali juga punya usaha sampingan lain. Dia memiliki kolam ikan yang diisi  ikan lele and ikan tawes. Di kolam itu juga ada jambang ‘plung lapnya”. Suatu kesenangan tersendiri ketika buang hajat  plung langsung diterkam ikan ikan lele yang kelaparan. Bila memandang ke dasar kolam maka terlihat mulut mulut ikan lele yang sedang menyantap makanan yang baru saja jatuh dari atas kolam.

Usaha lain dari Pak Haji Ali adalah ternak sapi perah. Dia memelihara 7 ekor sapi perah dan 1 pejantannya. Tiap pagi dan sore pekerja Pak Ali sibuk memerah susu dan memberi makan sapi sapi itu. Ia juga punya usaha rumahan berupa pembuatan marning ( makanan ringan yang berbahan dasar jagung ) memiliki beberapa tenaga dalam pembuatannya.

Suatu hari saya pernah bertanya pada Ibu tentang orang Betawi dan kekayaannya.

“Bu, kenapa orang Betawi itu  kaya dan kebun nya luas?”

“Ya jelas Nduk. Orangtua mereka rata rata tuan tanah. Jakarta terus membangun ada kantor, rumah, dan jadi pusat perdagangan. Jadi harga tanah cepat melonjak. Yang diuntungkan ya yang punya tanah dan kebun yang luas.”

“Eh enggak ding Bu, ada juga yang miskin dan kasian, saya lihat, Mpok Aya itu tanahnya habis ya Bu? Tinggal setongkrongan.

“Nasibnya jelek Nduk, anak anak Mpok Aya bandel ngerongrong orangtuatiada henti. Gimana ngga mau habis tanahnya tiap dia butuh uang dia tinggal minta sama Mas Gumbreg yang dulu kontrak sama mpok Aya. Malah hampir semua tanah yang dijual mpok Aya jatuh ke tangan Mas Gumbreg kan.”

“ Iya, ya Bu. Ini rumah kita juga beli dari Pak Azis. Lalu dibeli lagi di tempat yang agak murah dekat pinggir sungai Ciliwung ya Bu.”

Maaf, saya jadi terbawa kenangan masa lalu saya padahal mau berkisah tradisi pergi hajinya orang Betawi yang saya alami. Saya berpendapat  orang Betawi pergi haji itu sangat unik dan sangat membekas di hati saya hingga saat ini. Persiapan pergi haji saat itu menurut saya cukup ribet. Waktu itu pergi haji berangkat dan pulang dengan kapal laut, perjalanannya lama.

Sebelum berangkat orang yang akan menunaikan ibadah haji melaksanakan acara yang disebut walimatussafar atau acara pamitan. Sanak-saudara dan tetangga diundang untuk mendengarkan ceramah ibadah haji yang diawali dengan rangakaian kalimat talbiyah;

“Labbaika Allahomma Labbaik. Labbaik La Shareeka Laka Labbaik. Innal-Hamdah, Wan-Nematah, Laka wal Mulk, La Shareeka Laka.”Hamba-Mu datang menyahut panggilan- Mu, Ya Allah hamba-Mu datang menyahut panggilan-Mu. Hamba-Mu datang menyahut panggilan-Mu Tuhan yang tidak ada sekutu bagi-Mu. Hamba datang menyahut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian dan ni`kmat serta kerajaan adalah kepunyaan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu”.Selanjutnya Ustadz atau Kyai memberikan tausiyah kepada para hadirin.

Pada acara itu para tamu akan dijamu dengan berbagai macam makanan khas betawi. Tak lupa para tamu memberikan bingkisan entah itu makanan, perlengkapan yang bisa dibawa ke sana bahkan ada yang memberi  uang, yang nantinya dibawa atau ditinggalkan untuk kebutuhan keluarga di rumah. Para tamu tidak sungkan untuk titip doa supaya dibacakan di tempat tempat ijabah.

“ Cing, ini aye nitip duit dikit buat jajan Encing di Mekkah. Jangan lupa doin aye ye!”

“ Iye, Encing bakal doain elu pade, biar sehat, banyak rezeki. juge bisa pegi haji taun depan.”

Ada juga kekhasan yang barangkali tidak dilakukan di tempat lain yaitu berupa menitipkan pas foto kepada orang yang akan berangkat haji.

“ Aye nitip foto ye, tulung selipin di Al quran tar kalau sudah sampe Masjidil Haram jangan lupa sebut name aye dan doain ye..! Ngarep banget bisa cepet dipanggil taon depan jadi bisa berangkat haji juga ye..! Begitu permohonan tamu kepada jemaah haji yang akan berangkat. Permohonan itu tentu saja dikabulkan sehingga wajah sang pemohon berseri-seri.

Perbekalan yang mereka bawa juga lumayan banyak selain baju ikhram dan perlengkapan pakaian lainnya. Untuk perbekalan makanan mereka membawa beras, ikan asin, dendeng, bumbu masak kering, cobek, alat masak, dan apa saja makanan kering yang dianggap di sana tidak ada. Perlengkapan untuk kesehatan juga dibawa dari mulai minyak angin hingga duit gobang untuk kerokan tak lupa menyertainya. Semua perlengkapan tersebut dimasukkan ke dalam kotak atau seperti peti kayu yang disebut sahara.

 BERSAMBUNG

astutiana

Check Also

kakbahmalamhari

Rinduku Jadi Tamu Allah (3) selesai

Tak terasa waktu 4 tahun akhirnya terlewati, saya lulus S1 (strata 1 ) dengan nilai ...

Comments

Tinggalkan Balasan

//