Home / Sharing / Pengalaman / Rinduku Jadi Tamu Allah (2)

Rinduku Jadi Tamu Allah (2)

Sebarkan:

Mimpi saya untuk bisa menunaikan ibadah haji sebenarnya berlebihan. Mengapa? Latar belakang ibu saya yang menganut agama Islam sangat minim. Ibu lebih mengutamakan budaya kerja dan akhlak. Di mata Ibu kalau orang yang sudah berniat pergi haji itu orang yang sudah sempurna. Ibu juga seorang pengamat yang hebat. Terutama mengamati kerabat dan tetangganya yang selesai beribadah haji. Ibu sering ngedumel setelah baca berita, nonton TV atau mendengar berita yang minir tentang orang orang yang berpredikat haji. Komentar ini pasti tercetus bila ada kasus asusila atau criminal yang pelakunya orang yang sudah bertitel haji.
“ Wong haji koq ngapusi. Wong haji koq curang.”
Saya kadang terpengaruh. Benar juga ya. Berarti hajinya percuma dong.

Pernah waktu selesai makan malam. Ibu, dan ke dua adikku baru saja selesai belajar. Ibu seperti kebiasaannya sejak kami di SD selalu membaca berita di koran dengan suara keras. Setelah membaca keras ia akan memberi komentar yang panjangnya melebih berita yang dibaca. Itu lah Ibu. Ia mengajarkan ke tiga anaknya melek berita. Ia ingin pengetahuan umum yang dimiliki anak anaknya bertambah.

Berita yang sedang hangat waktu itu yang bertepatan dengan musim haji adalah ketika banyak jemaah haji yang tertipu oleh calo haji, sehingga mereka dijuluki “Haji Singapura.” Karena keterbatasan pengetahuan dan mudahnya tergiur dengan janji para agen perjalanan, para jemaah itu tidak sampai ke Mekkah tapi mereka terdampar di Singapura hingga ibadah haji selesai. Ironisnya ada juga biro jasa yang mengeluarkan surat keterangan yang menyatakan mereka sudah melaksananakan ibadah haji.

Nah dari berita seperti itu perlahan tanpa disadari oleh anak anaknya , ibu membuka mata hati kami bahwa jadi orang itu harus cerdas tidak mudah tertipu seperti para haji yang menjadi korban kenakalan agen perjalanan haji. Ibu menunjukkan sekaligus mengajarkan bahwa apa yang baru dibaca itu contoh yang tidak baik. Kami diminta untuk jadi orang yang jujur dan tidak mudah tergoda. Kami harus memiliki pendirian yang teguh.

Masa kecil ibu dan masa kecil kami jelas berbeda. Ibu berada di lingkungan yang mayoritas Islam abangan. Ibu baru belajar salat ketika saya berusia 8 tahun. Alhamdulillah Ibu bersahabat dengan seorang pasiennya yang masih keturunan Arab yang kemudian mengajarkan ibu salat 5 waktu. Setelah itu mungkin ibu menyesal dan tidak ingin anak anaknya minim dalam beribadah sehingga ibu mengharuskan ketiga anaknya belajar agama dengan sungguh sungguh.

Kami adalah keluarga sederhana. Skala prioritas dalam keluarga kami waktu itu bukan menunaikan ibadah haji seperti tetangga kami yang kebanyakan orang Betawi. Ibu lebih mengutamakan bagaimana agar ketiga anaknya bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih baik dari pada seperti Ibu yang hanya lulusan sekolah perawat di Semarang. Padahal saya dan adik saya Astari yang sering hadir di ta’lim sangat terobsesi dan punya mimpi bisa melaksanankan ibadah haji.

Usia saya dan Astari terpaut kurang dari 2 tahun. Sampai lulus SMA kami tinggal bersama di Jakarta. Saya melanjutkan kuliah di Solo sesuai dengan keinginan ibu yaitu di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Setahun kemudian Astari kuliah di Yarsis jurusan Kedokteran. Saya kasian kepada Ibu sebagai single parent yang harus membiayai kedua anaknya yang mulai kuliah. Ini jadi tahun tahun terberat buat keluarga kami. Secara berurutan kami lulus SMA dan harus kuliah semua.

Dengan penuh harapan saya tinnggalkan Jakarta. Saya harus bisa hidup berjauhan dengan Ibu dan adik adik saya demi masa depan saya. Saya menatap mata Ibu yang terlihat bangga ketika saya diterima kuliah sesuai dengan yang diinginkan.
“Nduk, rasanya terbayar sudah jerih payah ibu yang antri membelikan formulir pendaftaranmu supaya bisa kuliah di Solo.”
“Iya Bu terima kasih,” jawab saya penuh haru. Ibu rela datang ke Solo lebih awal dan mengambil formulir pendaftaran di loket kampus waktu itu.
“Jaga dirimu baik baik. Mulai sekarang komunikasi kita hanya dengan surat. Ibu usahakan bisa kirim wesel dan makanan tiap bulan.” Kutahan bendungan airmataku yang hampir jebol.

Tapi apa yang terjadi ketika saya sudah jadi mahasiswa? Terus terang saya malu. Sebagai mahasiswa ibadah saya amburadul. Ketika tidak salat subuh pun tenang saja. Al Quran pun jarang saya baca. Ketika salat saya tidak pernah khusyuk sama sekali. Saya bak burung yang lepas dari sarangnya. Usai kuliah saya lebih suka bertandang ke rumah kos teman saya. Begitu juga ketika liburan, waktu saya habis untuk berkunjung ke rumah teman yang ada di Jenawi, Boyolali atau bahkan sampai Kudus.

“As, besok aku mau pulang kampung. Ikut ya!” Rasa ingin tahu dan memang hobi melihat tempat yang baru yang berbeda dengan Jakarta membuatku menerima ajakan itu.
Saya menyadari bahwa cara saya belajar di kampus tidak maksimal. Tidak ada target yang muluk muluk. Bisa lulus tepat waktu ya Alhamdulillah. Kegiatan saya yang lebih utama malah kegitan social. Lebih banyak hura huranya. Saya punya banyak komunitas waktu itu. Komunitas hura hura ada. Komunitas belajar jelang ujian atau menyelesaikan tugas ada. Komunitas pencinta alam gabung. Maka waktu yang 24 jam itu betul betul padat merayap. Belum lagi bila tetiba kangen rumah, saya rela duduk manis di atas bus malam yang membawa saya ke Jakarta.

BERSAMBUNG

astutiana

Check Also

kakbahmalamhari

Rinduku Jadi Tamu Allah (3) selesai

Tak terasa waktu 4 tahun akhirnya terlewati, saya lulus S1 (strata 1 ) dengan nilai ...

Comments

Tinggalkan Balasan

//