Home / Humaniora / Filsafat / Syeikh Siti Jenar: Makhluk dan Khalik dalam Perdebatan Eksistensi Hakikat Tuhan

Syeikh Siti Jenar: Makhluk dan Khalik dalam Perdebatan Eksistensi Hakikat Tuhan

Sebarkan:

Diskursus tentang eksistensi Allah SWT dan Tuhan dalam pemahaman yang sangat spektakuler justru datang dari Al Hallaj dan Sheikh Siti Jenar. Kedua tokoh filsafat eksisensial itu banyak gagal dipahami oleh banyak orang. Bahkan para pengikut Rasullullah SAW pun gerah dan akhirnya memberikan cap sesat ajaran dan pemahaman Al Hallaj. Yang menarik adalah pada zaman Rasullullah SAW ketika masih hidup, gejala pemahaman eksistensial hakikiyah ilahiyah Allah SWT menjadi bahan diskusi yang banyak melahirkan pemikiran dan memicu turunnnya ayat-ayat Al Qur’an.

Kejadian itu terjadi pula di Indonesia dengan tokohnya antara lain Syeikh Siti Jenar. Dialah tokoh paling menonjol yang menghadirkan pemahaman tentang Allah yang sangat berbeda dengan pemahaman para Wali Songo – Sembilan Pentabligh Islam di Jawa pada abad ke 15-16 yang sangat terkenal itu. Paham Islam yang diajarkan oleh Al-Hallaj dan Sheikh Siti Jenar yang banyak diulas adalah tingkatan syariat, tarekat, hakikat dan makrifat. Makrifat yang dipahami oleh banyak orang pada saat itu – yang sangat rendah – menyebabkan ajarannya dianggap sesat dan membahayakan ajaran Islam yang standard.

Apa sesungguhnya ajaran dan pemahaman Al Husain bin Manshur Al-Hallaj – yang hidup setelah tahun 224 H atau sekitar tahun – dan juga Sheikh Siti Jenar? Konsep paling penting ajaran mereka sebenarnya terletak pada pemahaman dasar tentang makhluk dan khalik; yang diciptakan dan yang menciptakan. Itulah dasar dan alat memahami tingkatan pemahaman kepada Allah SWT. Bagi Sheikh Siti Jenar, makhluk dan khalik adalah dasar memahami eksistensi manusia dan Allah SWT.

Makhluk selalu berbeda dengan khalik. Makhluk tidak akan pernah mampu menjangkau dalam bentuk apapun tentang khalik. Bahkan pemahaman tentang bahwa dari makhluk hanya akan dilahirkan dan dihasilkan makhluk memberikan petunjuk dengan sangat jelas posisi kebenaran pemikiran Sheikh Siti Jenar. Contohnya: semua hal yang keluar dan dihasilkan oleh manusia (makhluk) berupa pikiran, perbuatan dan bahkan kata adalah makhluk. Maka ketika manusia memikirkan tentang Allah SWT, tentang dzat Allah SWT, sesungguhnya manusia itu tak akan sampai kepada eksistensi ilahiyah hakikiyah Allah SWT.

Manusia telah diperingatkan oleh Allah SWT untuk tidak memikirkan tentang dzat Allah SWT karena tidak akan mampu. Hikayat Musa menunjukkan betapa manusia tak akan mampu mengenal Allah secara ilahiah karena Allah SWT adalah khalik – pencipta – yang sama sekali berbeda dan tak terjangkau oleh manusia. Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk mengenali dan memelajari makhluk Allah, bukan dzat Allah yang tak terjangkau oleh pikiran manusia.

Bahkan Sheikh Siti Jenar mengajarkan pemahaman yang lebih tinggi berupa ‘hikmah – wisdom’ di atas tingkatan level rendahan syariat, tarekat, hakikat, makrifat. Hikmah mengajarkan bahwa Allah hanya bisa dipahami dalam ‘rasa’. Bahkan yang sangat kontroversial, namun menemukan kebenaran sejatinya adalah bahwa Allah SWT hanya bisa dipahami lewat rasa.

Ajaran tentang 20 sifat Allah dan 99 asmaul khusna dalam versi pemahaman sufisme Al Hallaj dan Sheikh Siti Jenar menunjukkan bahwa Allah tak mungkin bisa dideskripsikan melalui pemahaman ‘bahasa’ manusia – karena bahasa manusia adalah termasuk makhluk Allah. Allah SWT memberikan petunjuk tentang eksistensi dirinya – karena manusia ‘memaksa’ ingin mengetahui tentang dzat Allah – lewat ‘pendekatan manusiawi dengan bahasa manusia’.

Namun senyatanya, Allah SWT justru memberikan ‘lampu hijau yang semakin menjauhkan eksistensi Allah yang sebenarnya’. Allah meyakinkan kepada manusia untuk hanya memahami Allah melalui makhluknya – bukan tentang eksistensi diri Allah. Sheikh Siti Jenar dengan sempurna memberikan suatu ajaran tentang eksistensi ilahiyah hakikiyah Allah SWT sesuai dengan ajaran Al Qur’an. Ajaran ini disampaikan dalam bentuk ajaran antara lain: Gusti Allah Iku Tan Kena Kinaya Apa – Allah itu tak bisa dideskripsikan dan dibayangkan dengan cara apapun oleh manusia. Allah juga tak bisa dicerna dengan bahasa manusia sebagai makhluk. Maka setiap upaya mendeskripsikan Allah dalam pikiran manusia – sebagai bentukan makhluk – maka pada saat itu tak akan menemukan bentuk eksistensi Allah yang hakiki.

Di balik larangan memahami Allah mengenai dzat Allah, sebenarnya terkandung ajaran yang sangat indah bahwa Allah hanya bisa dipahami melalui rasa – yang bebas dari bahasa manusia. Inilah ajaran universal tentang ilahi, Tuhan, God, Allah, Gusti, Pangeran yang selalu menemukan kebenarannya. Bahkan jika dipahami secara mendalam, ajaran Yahudi yang tidak mengenal penamaan Tuhan, dan bentuk Tuhan menurut Yahudi adalah persis dengan yang diajarkan oleh Al Hallaj dan Sheikh Siti Jenar.

Bahkan ajaran ‘manunggaling kawulo lan gusti’ dan ‘gusti Allah iku tan kena kinaya apa’ adalah identik dengan berbagai ajaran tentang eksistensi Tuhan (baca: Allah SWT – karena penamaan yang berbeda-beda sesuai dengan pengalaman spiritual dan kultural manusia) dalam agama-agama apapun juga. Artinya Tuhan hanya bisa dipahami sesuai dengan pemahaman manusia yang manusiawi berdasarkan pengalaman spiritual yang berbeda-beda: dan selalu benar – bahkan atheisme adalah wujud theisme pula.

Inti ajaran Al Hallaj dan Sheikh Siti Jenar mengajarkan pada kita bahwa selama Allah masih dipahami dengan bahasa manusia maka pastilah bukan Allah yang dimaksud. Allah hanya bisa dipahami dengan dan melalui ‘rasa’ bukan pikiran. Hati atau Qalbu adalah alat untuk membantu memahami rasa keilahian yang hakiki tentang Allah yang ada dalam setiap jiwa. Namun, sejatinya tetap saja manusia bukanlah Allah, namun Allah hadir dalam jiwa manusia sebagaimana disebutkan oleh berbagai ayat Al Qur’an.

Salam bahagia ala saya.

Ninoy Karundeng

Check Also

wihara-singkawang-dibom

Manusia Munafik dan Biadab yang Menyerang Tempat Ibadah

Kabarkanlah.com – Dalam ajaran Islam tak ada yang namanya menyerang tempat ibadah agama lain. hanya ...

Comments

Tinggalkan Balasan

//