Home / Sastra / Cerpen / [KABARKANLAH]Simfoni Tak Sampai

[KABARKANLAH]Simfoni Tak Sampai

Sebarkan:

gambar1

Sumber foto : Merdeka.com

SIMFONI TAK SELESAI

Cerita Pendek : E. ROKAJAT ASURA

             Andai saja pengecer koran itu tidak mengatakan ada mayat terpotong tujuh, dan kejadiannya di Sudimampir, Sumarni tak akan rela mengeluarkan uang dua ribu perak untuk membeli koran. Uang sejumlah itu terlalu mahal untuk sekedar dipakai membeli berita.  Kalau saja dibelikan tempe, uang itu bisa dapat dua potong. Tapi pagi ini, pengecer koran itu benar-benar telah memperdaya Sumarni. Betapa tidak. Dengan dibelinya koran itu, terpaksa ada belanjaan yang tak terbeli. Sumarni keluar pasar setelah mengutuki dirinya sendiri. Kenapa harus peduli dengan nama kampung itu, padahal yang namanya Sudimampir di negara yang luas ini, ada ratusan bahkan mungkin ribuan. Bukan hanya nama kampung tempat dimana ia dilahirkan.

            Koran itu tergeletak di atas dipan bambu di dapur yang sempit. Dari dapur ke ruang istirahat sekaligus kamar tidur, hanya dibatasi lemari dari kayu mahoni. Sementara ketika ada tamu, tersedia dua kursi plastik dan meja kecil di teras, di sebelah satu-satunya pintu kamar kontrakannya itu. Tempat kontrakan itu sendiri terdiri dari enam kamar memanjang seperti gerbong kereta api.

Kini Sumarni tak mempedulikan koran itu dan lebih senang menjejer-jejerkan belanjaan. Kemudian sambil mendongak ke kamar tidur, ia berpikir tentang masakan dan komposisi gizi untuk kepentingan si kecil yang belum genap lima tahun. Kadang Sumarni mentertawakan diri sendiri. Di tengah situasi sulit dan kejaran uang kontrakan, anehnya ia masih sempat berpikir tentang gizi bagi si kecil. Luar biasa memang pengaruh bu RW yang jadi ketua PKK di tempatnya kini tinggal itu. Bu RW memang selalu panjang lebar bicara tentang gizi, cara hidup sehat, dan bagaimana membatasi anak. Di dalam hati Sumarni tersenyum kecil, bagaimana mungkin hidup tanpa suami bisa bertambah anak. Tapi di hadapan Bu RW, Sumarni mencoba untuk terlihat cerita tidak sekusut kehidupannya. Sebagai seorang buruh pabrik dengan seorang anak, kehidupan Sumarni memang sulit tidak dikatakan kusut. Tapi siapa yang mau peduli dengan kusutnya kehidupan Sumarni?

            Tentang ia hidup tanpa suami, bukan cuma Bu RW yang tidak peduli, juga kebanyakan teman dan tetangga dekatnya. Kecuali Bu Tisna, terhalang satu kamar ke arah kanan. Untuk segala hal ia memang selalu peduli kadang berlebihan. Saat libur kedapatan Sumarni menggedong si kecil misalnya, Bu Tisna akan sangat refleks bicara, kasihan anak ini, kecil-kecil sudah tidak tahu wajah bapaknya. Saat tetangga sebelah kiri berantem, ia cepat-cepat mendorong Sumarni masuk ke dalam kemudian bicara segala hal tentang tetangganya itu. Katanya wanita itu bekas pelacur, dan salah seorang pelangganya adalah yang sekarang jadi suaminya itu. Ia memang bermulut jelek, kasar dan menyebalkan, komentarnya. Tentang profesi Sumarni sebagai buruh pabrik, ada saja komentarnya. Kerja kok seperti binatang, diperas terus sampai kering padahal makannya tetap saja rumput. Masalah komentar yang satu ini Sumarni dengar langsung saat Bu Tisna bicara pada tetangga yang lain. Disangkanya Sumarni telah berangkat kerja saat itu, padahal ia bangun kesiangan.

Seperti layaknya buruh pabrik, Sumarni bekerja tiga shift dalam sebulan. Sembilan hari shift satu, masuk jam enam pagi keluar dua sore. Sembilan hari kedua ia masuk shift dua, dari jam tiga sore sampai sepuluh malam. Sisanya ia masuk shift tiga, dari jam sebelas sampai lima pagi, dengan libur satu hari penuh diantara pergantian shift itu. Hanya itu yang bisa dilakukan Sumarni di kota ini. Termasuk juga keinginan memperhatikan gizi si kecil, karena hanya itu pula yang bisa ia lakukan. Semacam cara menebus kesalahan pada si kecil. Supaya setiap ia bekerja dan si kecil hidup di tempat pengasuh bayi, ia tidak terlalu merasa dikejar-kejar rasa bersalah sebagai seorang ibu yang menelantarkan anaknya. Juga kelak saat si kecil beranjak dewasa, tidak perlu menuntut kenapa ibunya tidak mengasuh dan memperhatikan dirinya seharian penuh. Karena memang itu tidak mungkin. Sumarni hanya bisa memperhatikan sehari penuh saat libur seperti hari ini.

Si kecil merengek manja. Sumarni cepat loncat ke kamar yang hanya terhalang gordyn. Ditepukinya pantat anaknya itu. Putri kecil itu tersenyum manis sekali. Hiburan yang sangat menyenangkan.  Dipandanginya ia yang kembali pulas tertidur. Tak ada tanda-tanda akan segera bangun. Tubuh kurus itu rengkuh menunduk. Dikecupnya si kecil diiringi rintih tertahan : “Kau tidak rindu ayahmu, Neng ?” Sumarni merebahkan tubuhnya, terlentang di samping anaknya.  Sambil menepuki pantat anaknya, mata Sumarni menerawang menembus langit-langit. Seperti sedang memutar sebuah rekaman video, wajah-wajah yang pernah tersimpan dalam memorinya itu hadir satu demi satu. Wajah bapaknya yang soleh dan baik hati. Wajah ibunya yang selalu menerima hidup apa adanya. Sesaat kemudian hadir pula wajah Topa.  Sumarni terkesiap dan serta-merta ingat pada koran yang baru saja dibelinya. Ingat pula tentang mayat dipotong tujuh di Sudimampir. Tentang nama lelaki yang jadi korban penganiayaan itu. Tentang … banyak hal yang tak terjawab. Sumarni bergegas bangkit dan sejurus kemudian telah hanyut dalam kata demi kata yang dirangkai wartawan pada koran yang dibelinya tadi di pasar. Sumarni yang kelewat hapal dengan setiap lekuk di kampungnya sendiri, sekarang semakin yakin, kampung Sudimampir yang jadi berita itu adalah kampungnya sendiri. Bahkan korban penganiayaan yaitu Topa, adalah lelaki yang sempat menanam benih dalam rahimnya, lalu jadi segumpal darah bernyawa yang sekarang telah berwujud sosok malaikat kecil nan cantik yang pulas tertidur.

            Ketika wartawan menyebutkan kepala korban tergeletak di jalan setapak di bawah rumpun bambu kuning tak jauh dari pancuran, dan tubuh lain tercecer di beberapa tempat, imajinasi Sumarni telah sampai di sana dengan sangat cepat. Ia hapal benar, di sana ada batu-batu besar hitam mengkilat tempat gadis kampong mencuci pakaian. Pada jalan setapak yang menurun dan berbatuan itu setiap yang lewat harus melindungi kepalanya, karena setiap saat ular totog selalu mengancam. Sekalipun belum melihat dengan kepala sendiri, tapi Sumarni sangat percaya dengan cerita orang tua. Ular itu berwarna kekuningan, hidup pada ranting-ranting rumpun bambu, melingkarkan tubuhnya pada batang bambu. Ketika ada yang lewat, ular itu akan meluncur dengan cepat dan mencari sasaran pada ubun-ubun kepala. Jika berhasil menotok ubun-ubun, ular itu akan terus hidup, kembali melingkar di batang bambu. Tapi konon jika tidak berhasil, ia akan mati begitu saja. Dekat rumpun bambu agak ke atas ke tenggara sebuah pohon Beringin melindungi nisan-nisan di pekuburan umum. Di pekuburan itu – tempat ditemukan bagian lain tubuh Topa –  ada sebuah saung, tempat istirahat penjaga kuburan. Saung itu dikelilingi pohon Kamboja menjadi pagar yang sangat rapat. Sumarni ingat benar saat itu setelah sekian lama duduk, tiba-tiba Topa merangkul dan menciumi. Nafasnya terdengar cepat dan terasa hangat. Bahkan ketika jemari Topa meremas jemarinya, terasa telapak tangan itu berkeringat. Saat itu ia hanya menyerahkan bulat-bulat dirinya, pada Topa yang penuh birahi.

            Untuk ukuran kampung Sudimampir yang sempit, wajah Topa yang tampan memang gampang dikenali. Secara tersembunyi atau terang-terang, banyak wanita yang bersaing untuk menarik perhatiannya. Apalagi Topa yang pandai mengaji, senang bergaul, selalu siap menolong siapapun, orang tua mana yang menolak kehadiran lelaki sepertinya. Bahkan secara diam-diam, justru banyak orang tua yang mendambakan punya menantu seperti itu. Demikian pula dengan kedua orang tua Sumarni. Ketika mengetahui Topa bergaul dengan anaknya, pintu itu dibukanya lebar-lebar. Samasekali tak pernah punya prasangka jelek, kalau kebaikan dan ketampanannya itu dijadikan senjata untuk menaklukan gadis-gadis. Pada saat emangnya bicara, bahwa Topa banyak pacarnya, Sumarni samasekali tak mengindahkannya. Topa itu baik. Topa itu soleh. Begitu pula ketika informasi itu didengar ayah Sumarni, adik iparnya itu disemprot habis karena disangka akan menghancurkan hubungan Topa dengan anaknya. Jangan suudzon, itu fitnah, dosa kamu, semprotnya.

            Sekarang pada koran itu hanya menyisakan dengus panjang. Sumarni tahu kalau Topa meninggal dibantai seorang lelaki bernama Masrin karena dendam lama. Pada lelaki itupun Sumarni sangat hapal. Masrin adalah anak juragan kayu dari kampung sebelah. Masrin yang hanya bermodalkan kekayaan, tidak tampan, dan agak brengsek itu, pernah secara terang-terangan meminta Sumarni pada orang tuanya. Sumarni ingat benar, selepas isa, Masrin menghadap bapaknya dan dibuat tidak berkutik. Saat itu Sumarni mengintip dari balik gordyn kamarnya.

            “Meminta Sumarni barang gampang. Tapi apa anak ini sudah baik solatnya?  Sudah benar ngajinya? Oh,ya, sudah hapal berapa surat-surat pendek?”

            Samasekali Masrin tak bisa menjawab, dan sekian lama tak terdengar ia bicara. Sumarni ingat benar, hanya dua kali mendengar suara Masrin, yaitu ketika ngomong assalamualaikum saat datang dan permisi pulang. Malu ia tampaknya. Bagi Sumarni hatinya begitu lega, karena Topa tak terkalahkan sehingga aib yang pernah ia lakukan di pekuburan umum itu akan tetap menjadi rahasia mereka berdua.

            Suatu hari ayahnya tiba-tiba saja berang. Sepulang dari pengajian bulanan di luar kampung, ia mendapati Topa sedang pacaran dengan anak gadis seorang ustad bahkan katanya mereka telah sangat serius dan bersiap-siap untuk menikah. Saat itulah ibunya yang selama ini pendiam juga berani bicara, bahwa Topa juga pacaran dengan putri seorang juragan jengkol dari Dampit. Maka semakin murkalah ayahnya. Sumarni tak bicara selain merasakan wajah dan tangannya dingin.

            “Mulai saat ini, bapak haramkan kamu bergaul sama begajul itu. Di depan saja lagaknya seperti orang soleh. Astaghfirulloh al-adzim. Pinter ngaji dan rajin solat, kok senengnya mempermainkan anak gadis orang.”

            Sejak saat itu Sumarni tak pernah melihat batang hidungnya lagi. Pernah sebulan sejak kejadian  ia mendengar kabar dari emangnya, Topa babak belur digebuki pemuda kampung karena kedapatan sedang menawar-nawarkan kupon togel. Ketika kedua orang tua Sumarni mendengar, bertambahlah kebencian mereka. Berbeda dengan Sumarni, ia justru sangat menunggu Topa apalagi ketika merasakan ada yang bergerak-gerak dalam rahimnya.

            Koran yang baru dilipat dibuka kembali. Wajah kaku itu kini seperti hidup kembali. Wajah penuh darah itu menatap. Sumarni terkesiap. Tapi semakin mata dipejamkan, semakin jelas wajah itu menatap penuh harap. Bahkan bibir hitamnya mulai bicara sekarang. Sungguh ia mulai bicara.

            “Maafkan saya, Sum. Kamu memang benar, untuk jadi orang lurus itu susah. Tapi kalau kamu percaya, Sum, sungguh saya ini masih mencintai kamu. Kenapa kamu tak pernah mau saya temui? Malah kamu kabur dari kampung. Katanya kamu hamil, ya? Jangan bingung, saya akan bertanggung jawab.”

            Sumarni semakin gelisah. Bukan karena kepala terpenggal itu yang bicara. Tapi ia gelisah karena memang telah kabur dari kampung. Kejadian malam itu hadir kembali. Setelah diputuskan dari Topa, ia tidak bisa kembali menjadi gadis yang suci. Tidak bisa duduk di balai-balai menunggu dilamar lagi. Tidak bisa beramai-ramai mencuci pakaian di kali yang airnya begitu bening, sambil bercanda di atas batu-batu hitam mengkilat itu untuk memancing perhatian pria lajang.

            Bapak memang tidak tahu. Tapi dalam hatinya Sumarni sangat yakin kalau ibunya telah mengetahui apa yang terjadi. Sumarni pernah memergoki ibunya menatatap haru pada perutnya yang telah berubah. Tapi ketika ia bicara jujur hanya dijawab tangis. Untuk itulah, atasnama menjaga martabat orang tua, akhirnya ia nekat kabur dan tiba di kota ini. Kemudian ia bekerja serabutan sebelum akhirnya ada yang kasihan, dan mengajaknya kerja di pabrik di bagian packing. Alhamdulilah sampai hari ini, ia terus kerja dan tidak banyak protes seperti kebanyakan buruh-buruh lain. Ia tidak bisa sekuat Marsinah si pahlawan buruh itu.

            Bapak terlalu suci dan baik bagi anak-anaknya, saya tidak ingin membuat ia sakit karena menanggung beban malu, keluhnya. Maka sakit hati dan penyesalan itu ditelan sendiri. Si kecil yang tadi nyenyak tidur kini bangun. Anak itu tidak menangis atau merengek seperti biasanya. Ia hanya menatap dan tertawa-tawa. Sumarni menciumnya. Pada saat mencium si kecil, pipi anak itu basah oleh airmatanya. Sumarni cepat-cepat menyekanya. Ia tidak ingin anaknya mengetahui penderitaannya.

            Sumarni makin gelisah.  Koran itu dilipat kembali. Disimpannya di bawah tumpukan baju di lemari plastik pinggir tempat tidurnya. Ia telah menganggap kalau berita di koran itu tidak sekedar berita kriminal, tapi berita itu telah menjadi bagian dari lembaran hidupnya sekarang dan lembaran hidup anaknya kelak.

***

            Sudimampir dalam lima tahun ternyata bikin pangling. Sangat banyak yang berubah. Jalan setapak ke pinggir sungai memang masih ada. Tapi airnya sekarang kotor, dan di kiri kanan jalan tak ada rumpun bambu lagi. Semua telah dipadati rumah-rumah. Sebelah atas ke tenggara dari sungai itu, pekuburan umum itu tidak seangker dulu lagi. Sekarang pada tanah kosong diantara batu nisan, banyak anak muda yang sengaja nongkrong, minum-minum, bahkan ada beberapa lapak yang dipakai bermain judi. Tak pernah ada cerita yang kesurupan katanya. Ibunya yang semakin lancar bicara, terus menggedong putri kecil Sumarni. Tak sedikitpun terbersit rasa kecewa pada wajah pasrahnya itu. Hanya Sumarni tetap menyesal ketika tahu bapaknya meninggal dua tahun setelah ia kabur. Dua adiknya hidup di kota lain, dan setiap lebaran ikut berdesak-desakan mudik sekedar untuk menyerahkan kebaya dan kain baru buat ibunya. Sumarni menggigit bibir. Kalau setiap tahun dua adiknya rutin membeli kain dan kebaya, sedikitnya telah memberi lima pasang selama lima tahun ini, tapi ia sehelai saputanganpun tidak.

            “Besok ibu antar kamu ke makam bapak. Bicaralah dengan jujur kenapa kamu minggat, supaya kepenasaran bapak selama ini terjawab. Jangan biarkan bapak membawa sakit hati karena prasangkanya sendiri pada kamu, Sum.”

            Ketika ibunya bicara tentang pembunuhan itu, pecalah tangis Sumarni.

            “Kenapa kamu tiba-tiba menangis, Sum? Apa ada yang salah pada ibu?”

            “Tidak, Bu!”

            “Lalu kenapa? Apa kamu ingat Topa? Sudahlah, toh ia bukan apa-apa kamu lagi.”

            Sumarni tersenyum pahit, lalu si kecil diambil dan dipeluknya erat. Ibunya memang tidak tahu atau tetap pura-pura tidak tahu, kalau putri kecilnya ini adalah buah cinta Topa.  Dihujani dengan ciuman dan air mata pipi tembem anaknya itu. Perjalanan masih panjang, batinnya, sepanjang benang-benang di pemintalan pabrik tekstil tempatnya ia bekerja selama ini. Kau harus bisa berdiri seperti pohon Beringin itu, Nduk, kalau tidak kau akan tumbang seperti ayahmu.

***

Enang Rokajat Asura

Check Also

[KABARKANLAH] Danurwendo Sang Gasayana

  Seandainya mimpi itu tidak pernah datang. “Anakku Ekalaya, ilmu apa yang kau miliki hingga ...

Comments

Tinggalkan Balasan

//