Home / Sastra / Cerpen / [KABARKANLAH] Part Time

[KABARKANLAH] Part Time

Sebarkan:

Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Hampir pukul 9 malam. Meski jalanan di hadapanku masih terlihat ramai, namun angkot yang merupakan rute tujuanku sama sekali tak terlihat. Padahal aku sudah berdiri sejak lima belas menit yang lalu. Kuhela nafas dalam- dalam lalu merapatkan jaket yang kukenakan. Udara dingin memang mulai terasa menusuk. Ah, kalau sudah seperti ini keinginan memiliki motor menguat di hatiku, namun sayangnya tidak semudah itu. Ada banyak hal yang lebih penting daripada sebuah motor.

“Maafkan ibu, Nak!”

Aku menunduk dalam- dalam. Tak berani menatap wajah wanita yang telah melahirkan dan membesarkanku. Ada sesak yang terasa.

“Untuk uang kuliahmu, ibu bisa mencari pinjaman tapi untuk biaya hidup ibu bingung,”

Nafasku tercekat. Seperti ada sebuah benda yang mengganjal di tenggorokan. Sakit. Sebutir air mata pun akhirnya lolos membasahi pipiku.

“Ibu juga ingin kamu melanjutkan sekolah…,” Suara ibu yang lirih terhenti sejenak, “Tapi kamu tahu kondisi keluarga kita sekarang.”

Kepalaku makin tertunduk. Bibirku semakin kelu. Hidup adalah ujian. Seberapa besar manusia mampu bertahan dan lulus dari ujian tersebut. Pun demikian yang terjadi pada keluargaku. Ayah, sang pemimpin juga tulang punggung keluarga meninggal beberapa bulan lalu. Tepat sebulan sebelum ujian kelulusanku dari sebuah sekolah menengah tingkat atas. Ayah mengidap berbagai macauara ibu yang lirih terhenti sejenak, “Tapi kamu tahu kondisi keluarga kita sekarang.”

Kepalaku makin tertunduk. Bibirku semakin kelu. Hidup adalah ujian. Seberapa besar manusia mampu bertahan dan lulus dari ujian tersebut. Pun demikian yang terjadi pada keluargaku. Ayah, sang pemimpin juga tulang punggung keluarga meninggal beberapa bulan lalu. Tepat sebulan sebelum ujian kelulusanku dari sebuah sekolah menengah tingkat atas. Ayah mengidap berbagai macam penyakit komplikasi hingga akhirnya beliau pergi. Sebelum ayah sakit, aku sudah memiliki impian untuk melanjutkan sekolah di sebuah perguruan tinggi namun pupus pasca kepergian ayah. Kondisi ekonomi keluarga sangat memprihatinkan.

Tidak, aku tidak menyalahkan nasib keluarga kami. Sakit beliau, kepergiannya serta masalah ekonomi yang membelit merupakan bagian dari ujian hidup kami sebagai manusia. Ibu selalu bilang selalu ada hikmah dibalik peristiwa. Bukankah pelangi akan muncul setelah hujan turun dengan derasnya?

“Basa, Mbak?”

Aku tersentak. Kesadaranku kembali. Sebuah angkutan kota berhenti tepat di depanku. “Kampus?” Tanyaku pada seorang pemuda belia yang turun dari angkot tersebut. Sebutlah kernet.

Gelengan kepalanya membuatku menghembuskan nafas gusar. Itu berarti aku harus mengeluarkan tambahan uang untuk biaya jasa ojek masuk ke daerah kostku.

“Ya udah,” Kataku pasrah. Belum tentu aku bertemu kembali dengan angkot. Apalagi ini waktu terus beranjak. “Sampai Kopi ya.” Kataku menyebutkan sebuah nama jalan yang lebih dekat ke kampus seraya naik ke dalam angkutan.

Lingkungan kostku berada tepat di belakang kampus. Lingkungan yang memang sengaja dibuat sebagai perkampungan mahasiswa. Harga serta biaya hidup yang sedikit lebih miring membuatku memilih tinggal di sana, meskipun sedikit bermasalah dengan transportasi. Jarak antara jalanan utama ke dalam kampus sekita 100 meter, kalau siang hari tentu tak masalah namun kalau malam hari sangat jarang sopir berbaik hati mengantar sampai depan kampus. Ini belum usai, karena jarak dari depan kampus sampai kekostku juga masih sekitar 100 meter. Kalau sudah seperti ini ojek satu- satunya yang dapat diandalkan meski kadang nasibku tak sebaik itu. Aku tinggal bukan di kota metropolitan jadi pukul 9 malam sudah sepi. Maka mau tak mau aku harus berjalan kaki menuju kosan.

“Yah!” Aku mendesah kecewa saat menyadari tak ada seorang pun tukang ojek yang mangkal. Ini berarti aku harus berjalan sekitar 200an meter hingga kosan. Nasib! Gumamku dalam hati sembari melangkah maju.

“Miss kalau les diganti malam gimana?”

Aku mengernyit menatap sosok wanita yang berusia awal 40an, orang tua salah seorang murid les privatku.

“Sekarang Evan kan kelas tiga, Miss. Jadi ada tambahan di sekolah.”

Aku manggut- manggut memahaminya. “Jam berapa, Ma?” Tanyaku kemudian.

“Jam 7an,”

Kalau jam 7 berarti selesai jam setengah 9 malam. Waduh, bagaimana aku pulang? Jam segitu angkutan jelas sudah sulit.

“Bisa ya, Miss? Evan udah cocok sama Miss. Nggak mau diganti katanya. Nanti ditambah kok, Miss.”

Duh, bagaimana ini.

“Ayolah, Miss. Bantu dia mau ujian.”

Aku menghela nafas dalam. Evan, salah seorang murid les privatku hampir dua tahun ini. Anaknya sedikit jahil tetapi baik pun dengan keluarganya terutama ibunya yang sangat baik padaku. Segan rasanya menolak permintaan ibunya, mengingat Evan juga akan melaksanakan UN tahun ini.

Kuanggukkan kepala perlahan. “Iya, Ma.” Kataku akhirnya. Rasanya tak tega untuk menolak. Apalagi aku memang membutuhkan tambahan uang untuk biaya skripsiku. Ya sudahlah, semoga keberuntungan selalu berpihak padaku.

Angin malam yang berhembus membuatku makin merapatkan jaket. Aku menarik tudung pada belakang jaket dan mengenakannya. Mataku sesekali melirik ke kanan kiri. Hanya ada deretan pohon kelapa dan beberapa toko serta fotokopian yang telah tutup. Sepi memang. Bahkan tak tampak seorang pun yang lewat. Hanya ada beberapa kendaraan yang lewat.

Hidup itu berjuang,batinku menguatkan. Sesuai dengan kata- kata ibu, beliau dapat membantu membayarkan SPP kuliah tapi tidak dengan kebutuhan sehari- hari. Maka aku pun berusaha untuk mencari pekerjaan sampingan. Mengajar ke rumah- rumah atau private salah satunya. Ada beberapa orang muridku. Semua dilakukan di siang hari selepas perkuliahan, namun khusus Evan yang awalnya siang hari berubah menjadi malam hari.

Ini tahun terakhirku di kampus. Kini aku sedang disibukkan menyelesaikan skripsi sebagai syarat akhir kelulusan. Dalam hati aku tak henti bersyukur karena telah tiba di titik ini. Perjuanganku memang belum berakhir, mungkin baru beberapa langkah tetapi semangat dan keyakinan harus terus kumiliki. Aku yakin aku pasti berhasil.

Sinar terang tertangkap retinaku. Sebuah plang besar bertuliskan selamat datang di perkampungan mahasiswa berada tak jauh dariku. Aku tersenyum lebar, akhirnya sampai juga. Meski aku masih harus berjalan beberapa meter lagi tapi lumayan tenang karena sudah tiba di daerah ramai dan terang. Aku pun dapat melangkah dengan santai hingga kosan.

Ya Allah, terima kasih untuk hari ini.

-end-

*gambar diambil dari mummysmiles.com

Lampung, Mei 2015

 

ImasSitiLiawati

Comments

Tinggalkan Balasan

//