Home / Sastra / Cerpen / [KABARKANLAH] MACO MAN

[KABARKANLAH] MACO MAN

Sebarkan:

Maco Man

Oleh  :  Baslan Syahputra

Selalu saja ketika aku terbangun, hamparan ornamen relief perpaduan Eropa-Asia di langit-langit membuatku berpikir untuk ke sekian kalinya. Mata tanpa makna yang membuatku tak tahu tentang apa yang kudapatkan selama ini dari orangtuaku. Mainan yang banyak tak membuatku bisa bermain dengan orangtuaku sendiri. Wanita berbaju pink itulah yang selalu menyuruhku makan bubur buatannya yang menurutku kurang garam itu.
Hujan tak kunjung reda malam itu. Suara berisik hentakan sepatu terdengar dari tangga yang terbuat dari kayu jati itu.
“Papa dan Mama mau pergi lagi ya ? Kemana ?” Tanyaku gelisah. Merasa tak rela jika harus ditinggal pergi untuk sekian kalinya.
“Maaf ya.” Papa memegang pundakku yang sudah setingginya. “Papa mau ke Singapura, ada urusan bisnis dengan ibumu.” Lanjut Papa.
“Iya, Leo. Mama dan Papa akan ke Singapura sekitar 1 bulan.” Timpal Mama. Saat itu mataku mulai berkaca-kaca.
“Harus pergi lagi ya ? Ucapku sedih.
“Maaf ya, nanti Papa belikan gadget terbaru buat kamu, yang lebih canggih.” Ucap Papa. Mendengar itu aku hanya diam sambil menunduk.
“Ya sudah, Papa dan Mama berangkat dulu.” Mereka pun pergi tanpa sepatah kata pun lagi. Hanya menitipkan 3 lembar uang seratus ribu seakan menyuruhku melakukan apa saja dengan uang itu. Kesedihan itu pun muncul lagi. Gadgetlah yang selalu menemaniku di saat suasana sepi tanpa kasih sayang mereka.
Selama beberapa hari, tak ada kabar dari Papa dan Mama. Mungkin saking banyaknya urusan, mereka lupa denganku di sini. Selalu saja begitu. Aku hanya bisa memaklumi. Masih berbaring di kamar pasca lulus SMA, tiba-tiba lamunanku dikejutkan dengan suara hentakan kaki dari arah tangga. Sepertinya sedang terburu-buru. Wajahku pun sudah bersiap-siap menoleh ke arah pintu menunggu ada yang mengetuk.
“Tuan muda ! Tuan muda !” Teriak Bu Anim sambil mengetuk pintu. Aku pun segera membuka pintu.
“Ada apa Bu, terburu-buru sekali ?” Tanyaku heran. Tampak Bu Anim menghela nafas dalam-dalam.
“Anu Tuan…anu…”
“Ditanya malah bingung. Ada apa sih, Bu ?” Aku mengambil minum di meja kamarku.
“E…e…Tuan…Ibu, Bapak…” Gagapnya. Mendengar itu, rasa penasaranku pun semakin ganas.
“Bicara yang jelas, Bu.” Timpalku sedikit keras.
“Ibu, Bapak sudah meninggal, Tuan.” Bu Anim menunduk lesu. Seketika tubuhku lemas. Air mata bercucuran membasahi pipi. Seperti ada yang menusuk jantungku sekuat mungkin. Sakit merasakan kehilangan.
“Bu Anim gak berbohong, kan ?” Tanyaku sambil terisak.
“Maaf, Tuan. Ibu gak bohong. Kecelakaan pesawat.” Kami sama-sama menangis. Kunyalakan TV dan benarlah yang dikatakan Bu Anim. Berita kecelakaan pesawat yang menewaskan Papa dan Mama. Hatiku hancur. Tak kusangka, orang yang paling kucintai meninggalkanku sendirian di rumah yang tanpa penghuni ini.
Kesedihan masih saja hinggap. Masih tak rela dengan keadaan yang menimpaku. Namun hidup harus tetap berjalan. Mungkin ini cara Tuhan untuk membuatku menjadi manusia yang tegar dan tak bermalas-malasan dalam kemewahan. Aku harus bisa menghidupi diriku sendiri dengan apapun yang ada sekarang.
Berbekal ilmu komputer yang kugeluti sejak SMP, aku memulai bisnis fotokopi dan warnet. Dengan didampingi kakek, aku mencoba mendapatkan uang dengan usahaku ini. Setelah beberapa bulan mencoba, pelanggan semakin bertambah. Penghasilanku bertambah walaupun cuma sedikit dan tidak lagi bergantung kepada harta Papa.
“Leo, cucuku, ini kakek berikan tambahan modal untuk kamu Ya, buat bantu-bantu usahamu ini.” Senyumnya.
“Terima kasih, Kek. Uang itu untuk Kakek saja. Leo masih bisa mengelola usaha ini, ya walaupun untungnya sedikit. Leo ingin mencari pengalaman mencari uang. Kakek mengerti dengan maksud Leo kan, Kek ?”
“Ternyata cucuku sudah besar.” Senyumnya sambil megelus kepalaku. “Baiklah, kakek mengerti. Kamu seperti ayahmu dulu, ingin melakukan apapun dengan usaha sendiri. Ya, walaupun dia tidak ada di sini, ayahmu pasti bangga kepada anak semata wayangnya ini.”
“Ah, Kakek bisa saja.” Kehangatan itu mulai terasa lagi. Aku bersyukur punya kakek sebaik ini.
Malam telah larut. Mimpiku berjalan-jalan entah kemana. Namun semua buyar ketika sirine keras memekik telingaku. Aku terbangun. “Pemadam kebakaran ?” Gumamku. Kubangkitkan badan dari tempat tidur dan mencoba mendatangi sumber bunyi. Kulihat asap tebal membumbung tinggi mengotori udara. Cahaya merah mengobarkan keganasan. Berbondong-bondong teriakan semangat dari warga yang hendak memadamkan apinya. Seketika keringat mengucur deras. Rasa sedih dan kesal membuatku panas hati. Lemas seperti tak bertulang. Usaha yang kutempuh dengan keringat dan perjuangan kini menjadi santapan api. Semua ludes, musnah. Aku tak dapat berbuat apa-apa.
“Dik, jangan di situ, berbahaya !” Teriak salah seorang pemadam kebakaran kepadaku sambil memegang selang air. Sungguh kecewa dan kesal. Sepertinya kegagalan selalu saja menghampiriku. Gagal mendapatkan kasih sayang yang seharusnya dari orangtua, gagal dalam menghidupi diri sendiri.
Tekad pun semakin besar. Aku mencoba mencari cara lain untuk mendapatkan uang. Harta yang semakin menipis membuatku harus berpikir lebih keras dari biasanya.
“Maaf, Pak. Ada lowongan pekerjaan ?” Tanyaku pada satpam perusahaan penerbitan koran.
“Benar sekali, Dik. Kami sedang membutuhkan kurir koran. Kalau adik mau, mari kita masuk ke dalam.” Ajak satpam.
“Terima kasih, Pak.” Aku sangat senang. Setidaknya aku bisa mendapatkan uang dengan cara ini.
Berminggu-minggu aku kerja sekaligus menabung. Berminggu-minggu juga aku memperhatikan para redaksi yang menyeleksi naskah yang layak untuk dimasukkan dalam koran. Kulihat, ada rubrik sastra dimana setiap naskah akan dibayar sesuai ketentuan. Aku pun mencoba menulis cerpen dan puisi untuk menambah penghasilanku. Walaupun kadang tak ada kabar dan lama menunggu, aku terus berusaha memperbaiki tulisanku. Alhamdulillah, setelah sekian lama menunggu, akhirnya puisi dan cerpenku lolos seleksi sehingga dimasukkan dalam koran tempatku bekerja.
Bertahun-tahun sudah sejak meninggalnya orangtuaku. Dengan pekerjaanku ini, aku sering melihat rumah-rumah kumuh dan warga yang kurang mampu. Miris. Di saat aku yang masih susah begini, ternyata masih ada yang lebih membutuhkan bantuan. Aku pun memutar otak untuk mencari ide cemerlang. Usaha dengan modal sedikit tapi bisa menyerap banyak warga untuk bekerja.
“Assalamu’alaikum.” Salamku pada salah satu rumah yang penuh dengan barang pemulung.
“Wa’alaikumsalam.” Tampak seorang lelaki kurus paruh baya membukakan pintu.
“Maaf sebelumnya. Nama saya Leo. Begini, Pak, kedatangan saya ke sini ingin mengajak Bapak untuk bekerja dengan saya mengelola usaha keripik singkong saya. Ya, mudah-mudahan saja bisa membantu Bapak.”
“Serius, Nak ?” Dia heran. Aku hanya tersenyum. Akhirnya Bapak itu mau. Mulai berjalanlah usaha kecil-kecilanku ini.
Awalnya, aku mempekerjakan dua orang saja. Namun lama-kelamaan semakin ramai karena ternyata banyak warga yang belum memiliki pekerjaan. Sekarang, sudah 20 orang yang kupekerjakan. Dan alhamdulillah, usahaku ini mendapat apresiasi dari pelanggan sehingga keuntungan meningkat terus. Aku sangat senang bisa membantu warga di sini. Mereka bisa memiliki kehidupan yang lebih baik. Aku berencana membuka cabang baru di kota lain.

 

Sumber foto :

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

http://skydunia.blogspot.com

Baslan Syahputra

Comments

Tinggalkan Balasan

//