Home / Humaniora / Ganti Budaya Nusantara dengan Budaya Arab!?

Ganti Budaya Nusantara dengan Budaya Arab!?

Sebarkan:

…. Ganti Budaya Nusantara dengan Budaya Arab; semakin Islami maka Semakin Arab ….

Secara sederhana, kebudayaan merupakan hasil cipta (serta akal budi) manusia untuk memperbaiki, mempermudah, serta meningkatkan kualitas hidup dan kehidupannya. Atau, kebudayaan adalah keseluruhan kemampuan (pikiran, kata, dan tindakan) manusia yang digunakan untuk memahami serta berinteraksi dengan lingkungan dan sesuai sikonnya. Kebudayaan berkembang sesuai atau karena adanya adaptasi dengan lingkungan hidup dan kehidupan serta sikon manusia berada.

Kebudayaan dikenal karena adanya hasil-hasil atau unsur-unsurnya. Unsur-unsur kebudayaan terus menerus bertambah seiring dengan perkembangan hidup dan kehidupan. Manusia mengembangkan kebudayaan; kebudayaan berkembang karena manusia. Manusia disebut makhluk yang berbudaya, jika ia mampu hidup dalam atau sesuai budayanya. Sebagian makhluk berbudaya, bukan saja bermakna mempertahankan nilai-nilai budaya masa lalu atau warisan nenek moyangnya; melainkan termasuk mengembangkan (hasil-hasil) kebudayaan.

Manusia pada komunitasnya, dalam interaksinya mempunyai norma, nilai, serta kebiasaan turun temurun yang disebut tradisi. Tradisi biasanya dipertahankan apa adanya; namun kadangkala mengalami sedikit modifikasi akibat pengaruh luar ke dalam komunitas yang menjalankan tradisi tersebut. Misalnya pengaruh agama-agama ke dalam komunitas budaya (dan tradisi) tertentu; banyak unsur-unsur kebudayaan (misalnya puisi-puisi, bahasa, nyanyian, tarian, seni lukis dan ukir) diisi formula keagamaan sehingga menghasilkan paduan atau sinkretis antara agama dan kebudayaan.

Di Nusantara ada banyak Suku dan Sub-suku, dan masing-masing mempunyai ribuan unsur-unsur kebudayaan, budaya, tradisi, kebiasaan, yang diwariskan oleh para leluhur. Semua warisan tersebut merupakan kekayaan (yang tak ternilai) manusia Nusantara. Ribuan unsur-unsur budaya dan kekayaan  tak ternilai itulah, sekaligus menjadi magnit yang membawa pendatang dari pelbagai penjuru Bumi ke Nusantara.

Mereka yang datang itu, (ada yang) sekaligus membawa agama dan unsur-unsur budaya setempat (tempat di mana agama itu ada atau lahir); dan di sini, di negeri ini, para pendatang (yang memadukan agama dan budaya atau sinkretisme) itu menyebarkan agama sekaligus memperkenalkan budaya asal mereka.

Inilah (itulah) yang terjadi sejak dulu di Nusantara, dan sekarang terjadi lagi; dan semakin garang orang melakukannya. Akibatnya, akhir-akhir ini, kita semakin sulit membedakan, mana yang Islami dan mana pula yang Arabis. Banyak orang, dengan lantang ajarkan, bahwa (sederhananya) semakin Islami maka semakin sama dengan apa yang ada di Arab.

LIHATLAH apa yang ada di sekitar kita …

  • menjawab telepon, banyak yang tak gunakan halo, atau ya atau salam, kini gunakan bahasa Arab, … ingin menunjukan bahwa dirinya islam
  • berbaju burqa, jilbab, cangkring, dan setrusnya, itu tandanya semakin sholeh dan Islami
  • nama-nama tempat, nama anak, nama kompleks, nama tempat ibadah, dan seterusnya, jika dengan nama Arab, maka itu semakin islami dan semakin dekat dengan surga
  • nyanyikan lagu-lagu/musik padang pasir, maka itu lebih Islami, daripada yang lain
  • bahkan ada yang protes dan berteriak, bahwa Nusantara membutuhkan koran Islami, televisi Islami, Bus Umum Islami, Kereta Api Islami, dan semuanya harus Islami
  • dan seterusnya, dan lain-lain, dan lain sebagainya  ……… ckckckckckckc

Dan (sebetulnya) jika ditelaah lebih jauh dan mendalam lagi, yang dimaksud oleh mereka, ternyata harus seperti (budaya atau pun unsur-unsur budaya) di Arab. Sehingga, semakin Arab, semakin Islami.  Lebih parah lagi, semua hasil seni Nusantara dianggap tidak Islami (karena tidak Arab!?).  Akibatnya, ada rombongan orang  (orang-orang sok suci – sok membela agama – sok moralis) yang MERUNTUHKAN PATUNG, merusak, merobohkan, menghancurkan semuanya  …. karena tidak Islami atau pun tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan tidak Islami.

Agaknya kita, bangsa ini, di Nusantara, banyak orang sudah kehilangan jati diri sebagai Manusia Nusantara. Manusia Nusantara yang mempunyai kekayaan budaya dan ribuan unsur budaya, kini mau dihancurkan – mau dihilangkan – mau ditiadakan – mau dilupakan oleh apa yang disebut atas nama tidak Islami. Sungguh tragis.

Agaknya, para penghancur itu – tukang merobohkan  itu – perusak-perusak itu, lebih suka NUSANTARA tanpa budaya Nusantara; mereka lebih mengakui dan senang jika Budaya Nusantara diganti dengan Budaya Arab karena lebih Islami.

1326675247899348161

koleksi jappy.8m.com

13895400211568193977

http://indonesiahariinidalamkatakata.8m.net

OpaJappy

Check Also

Ibu Susi Pujiastuti Menteri Perikanan dan Kelautan

Ibu Susi Menteri “Gila”

Wah judulnya serem ya, kenapa kok bu Susi dibilang menteri “gila”. Julukan ini bukan dari ...

Comments

Tinggalkan Balasan

//