Home / Kabar / Dalam Negeri / Indonesia (bukan) untuk Islam

Indonesia (bukan) untuk Islam

Sebarkan:

KABARKANLAH.COM – Menjelang bulan suci milik mayoritas rakyat Indonesia, secara nasional kita diributkan oleh dua pernyataan kontroversial yang memancing dan membangkitkan khazanah plintiran tingkat Yahudi. Pertama adalah pernyataan Menteri Agama yang semula fokus pada point “warung tak perlu dipaksa tutup” ditujukan kepada ormas garis keras dengan pengetahuan tingkat bawah yang secara ‘adat’ setiap bulan ramadhan sering melakukan penyerangan terhadap warung yang buka pada siang hari, atau meminjam istilah media; sweeping.

Kedua adalah pernyataan Wakil Presiden RI yang meminta agar masjid dan musholla tidak menggunakan kaset mengaji karena menurut beliau dinilai mengakibatkan polusi udara, serta tidak ada manfaatnya. Menteri Agama, yakni Pak Lukman, memang sudah mengklarifikasi via media yang sama, twitter. Namun seperti biasa klarifikasi tak akan pernah ‘membayar lunas’ kontroversial yang ditimbulkan. Saya sebagai warga negara yang bisa berpikir, dapat mengerti maksud yang ingin disampailan oleh Pak Lukman, namun tentu saja kapasitas beliau sebagai menteri seharusnya bisa lebih genius dari saya dalam hal komunikasi publik.

Seharusnya Pak Lukman dengan jelas menuliskan: Ramadhan kali ini tidak boleh ada sweeping atau penyerangan terhadap warung yang buka pada siang hari. Islam tidak mengajarkan seperti itu. Pernyataan seperti di atas jauh lebih berani, elegan dan yang terpenting tidak akan menimbulkan multi tafsir oleh kalangan penggiat media. Bandingkan dengan tweet yang ditulis oleh Menteri Agama “warung-warung tak perlu dipaksa tutup. Kita harus hormati juga hak mereka yang tak berkewajiban dan tak sedang berpuasa.” Patut kita akui bahwa kalimat tersebut cukup pantas jika kemudian media menuliskan “Menteri Agama minta hargai yang tak berpuasa,” sebab memang itulah kreatifitas, kepandaian serta kearifan media masa kini dalam mengolah berita menjadi bacaan dalam kemasan jurnalis. Bagaimanapun kontroversi tersebut bagi saya pribadi sudah selesai. Kalau kemudian ada pihak yang terus mengolah dan menggorengnya menjadi garing maksimal, ya itu urusan dan kebutuhan mereka dalam kehidupan berdemokrasi. Tugas Pak Lukman sebagai Menteri Agama sudah cukup dengan klarifikasi, dan media juga sudah memberitakannya. Semoga ke depan Pak Lukman bisa lebih pandai lagi dalam menyampaikan sesuatu. Selanjutnya adalah pelaksanaan.

Pernyataan Pak Lukman selaku Menteri Agama perlu ditindak lanjuti. Pada bulan suci Ramadhan nanti kemungkinan ormas tetangga timur tengah melakukan tindak kekerasan dan penyerbuan masih mungkin terjadi. Untuk itu Pak Lukman harus mengantisipasi dan bertindak jika kemudian terjadi penyerangan lagi. Selain itu, bahasan soal toleransi dan menghargai yang tidak berpuasa sebaiknya cukup sampai pada point “warung-warung tak perlu dipaksa tutup.” Keputusan selanjutnya dikembalikan pada masing-masing pribadi. Kalau memang ada warung atau restoran yang buka karena banyak konsumennya, ya buka saja, bukankah mencari rezeki juga bagian dari ibadah? Buka warung atau restoran saat dirinya sendiri berpuasa (jika konsumennya ada) berarti sedang beribadah di bulan puasa. Lalu mengapa harus disweeping? Bukannya itu malah mengganggu ibadah orang yang sedang mencari rezeki? Tapi kalau memang di wilayahnya mayoritas orang sedang berpuasa lalu masih ada pemilik warung yang masih buka, kita sepertinya sepakat sang pemilik warung cukup sakit jiwa. Contoh: di Madura tak perlu ada himbauan warung harus ditutup, karena tanpa himbauan pun (mayoritas) pemilik warung tidak akan membuka karena tau bahwa dagangannya tak akan laku di siang hari. Bukankah cukup syarat untuk disebut tidak waras jika ada pemilik warung yang masih buka padahal dirinya tau tak akan ada yang datang?Kecuali baik Jusuf Kalla maupun Yusuf Mansur hanya ingin populer dan menarik simpati publik, ya silahkan saja, tapi tolong tanggalkan dulu jabatan dan gelar anda berdua, lalu silahkan ‘bernyanyi’ secempreng Fadli Zon.

Sengaja tulisan ini tidak menautkan kata atau istilah-istilah syarie dan dalil-dalilnya agar bisa diterima oleh semua kalangan. Bagi santri dan ustad, saya tau kalian mengerti bahwa argumentasi ini sangat beralasan (ada dalilnya). Buat teman-teman yang lain, semoga bisa dimengerti dan tidak lagi terpancing emosi hanya karena sebaris kalimat tanpa mau menelaah dan mempelajarinya lebih dulu.

Atas nama Tuhan yang Maha Esa, salam damai untuk seluruh manusia apapun agamanya.

Meski memang ada sebagian kelompok yang menyayangkan dan tidak sepakat dengan ini. Mereka yang beranggapan bahwa warung harus tutup jika mereka menghargai Ramadhan agar tidak mengganggu orang-orang yang sedang berpuasa. Sekilas kita dengarkan dan maklumi, karena mungkin memang ada orang yang tak kuat iman jika melihat warung buka. Namun bagi saya yang selama 2008-2014 berpuasa di Malaysia, sedikitpun tak pernah merasa terganggu dengan maraknya warung, cafe dan restoran yang buka pada siang hari. Saya juga yakin bahwa mayoritas masyarakat muslim di Indonesia yang sudah wajib berpuasa tidak akan terganggu oleh banyaknya warung buka. Kalaupun terganggu, bukankah di situ keimanan kita diuji? Dan puasa sendiri adalah ujian menahan hawa nafsu. Ah tapi mana ada lelaki atau perempuan baligh yang puasanya masih sering bolong hanya karena ada warung buka? Mungkin hanya muallaf dan mereka yang terlambat melaksanakan perintah islam seutuhnya.

Ssmentara pernyataan Jusuf Kalla yang berniat menghentikan mengaji dari kaset yang diputar melalui toak atau speaker masjid menurut saya sangat salah kaprah. Sebab kaset-kaset mengaji biasanya diisi oleh suara-suara emas yang potensi menimbulkan gangguan atau polusi suaranya sangat minim sekali. Seharusnya yang dilarang adalah tadarus atau tilawah live via speaker masjid yang dilakukan oleh anak-anak, remaja hingga orang tua dengan genre serta kualitas bacaan yang berbeda. Hal ini jauh lebih mengganggu karena biasanya bersuara cempreng, cepat serta tidak jelas, dan sering sekali diiringi soundtrack anak-anak kecil teriak-teriak sedang bercanda.

Selain itu, menurut diskusi bahsul masail dan diskusi NU seluruh Indonesia, suara mengaji via kaset tidak wajib didengarkan. Berbanding terbalik dengan manusia yang mengaji, maka yang mendengarkannya wajib menyimak. Wajib di sini artinya jika kita mengabaikan akan mendapat dosa.

Sekarang mari kita ingat-ingat, ada berapa Ramadhan yang setiap selesai tarawih kita mendengar tadarus namun mengabaikannya? Kadang memegang gadget bersosial media, nonton teve, nongkrong dan sebagainya. Bayangkan, sudahlah suaranya tidak nyaman di telinga kita masih harus menanggung dosa jika tidak menyimaknya. Bukankah hal seperti ini yang semestinya dilarang? Bukan malah kaset mengaji yang selama ini secara informal sudah menjadi kearifan lokal di Indonesia. Sebab sekali lagi kaset mengaji biasanya diisi oleh suara emas dan kalaupun kita tidak menyimaknya baik-baik, tak ada dosa yang perlu kita tanggung.

Begitulah pemahaman sederhana saya soal syariat islam yang saya ketahui. Menyikapi hal ini sebaiknya ustad dan ulama yang merasa lebih mendalam pemahaman islamya dibanding saya, perlu berdiskusi bersama. Bukan malah seperti Yusuf Mansur yang kemudian membalas tweet dengan meminta maaf jika masjid dan musholla mengganggu, hal semacam itu sangat tidak bijak dilakukan oleh seorang pimpinan pesantren dan mendapat gelar ustad dari masyarakat, sebab tweet seperti itu hanya menggalang emosi. Orang yang membaca hanya akan mendapat rasa benci tanpa bertambahnya ilmu islam. Jelas hal semacam ini lebih cocok untuk level akun kloningan di Kompasiana yang kerjanya hanya menggalang dan menimbulkan emosi, bukan level seorang ustad.

Walau begitu saya cukup mengerti maksud JK adalah soal manfaat, fiqh siyasah mahdah. Sementara Yusuf Mansur bersikap kontra karena mengedepakan syiar islam. Dua-duanya ada benarnya, namun juga ada salahnya. Jusuf Kalla jika memang ingin memperbaiki iklim sosial islam di Indonesia sebaiknya lebih fokus pada pelarangan (atau lebih halusnya; mengatur) tadarus. Yusuf Mansur jika memang ingin berdakwah sebaiknya berhenti menggalang emosi. Kami masih ingat bahwa sebelum ini Yusuf Mansur pernah mentweet “ingin cepat-cepat pilpres lagi” dan berhasil menghimpun emosi masyarakat. Meskipun beliau mengklarifikasi dan meminta maaf, persis seperti yang saya tulis di awal artikel ini, bahwa klarifikasi tak pernah bisa membayar lunas emosi hasil kontroversi (pernyataan awal).

Alan Budiman

Check Also

Penghina Presiden,hatespeech

Grup Saracen Produser Konten Sara dan Ujaran Kebencian

Kabarkanlah.com – Sindikat yang tergabung dalam grup “Saracen” di Facebook mengunggah konten ujaran kebencian dan ...

Comments

Tinggalkan Balasan

//