Home / Kabar / Catatan Semifinal Indonesia 0-5 Thailand

Catatan Semifinal Indonesia 0-5 Thailand

Sebarkan:

dom-1434208207KABARKANLAH.COM – Laga semifinal Sea Games 2015, Indonesia sudah tertinggal 0-2 pada 45 menit pertama dan menjadi 0-5 di 45 menit kedua. Serangan sporadis dipertunjukkan oleh tim gajah putih dengan rapi yang membuat sepak bola nampak sangat mudah di kaki mereka.

Pertahanan Indonesia yang memang kurang baik harus dibombardir berkali-kali dari berbagai sisi. Kecepatan pemain Thailand tak mampu diimbangi oleh pemain Indonesia. Akurasi umpan, rotasi dan transisi yang sangat menarik dipertunjukkan pada babak pertama. Ditambah lagi kolektifitas dalam menyerang dan bertahan.

Sebagai penikmat sepak bola, tentu saja saya akan membagikan beberapa catatan menarik dalam laga ini.

1. Mental

Sejak peluit awal dibunyikan, Evan Dimas nampak berjuang sendiri saat melakukan pressing. Pemain depan dan gelandang serang Indonesia yang biasanya sangat mobile dan berada di jarak yang berdekatan, malam ini sangat renggang. Bahkan Evan Dimas berkali-kali memberi kode “ayo” dengan mengibaskan tangannya, namun para pemain masih merenggang tidak mau melakukan pressing. Sangat tidak biasa Evan Dimas berada di ujung tombak dalam melakukan pressing.

Selain itu ada banyak kesalahan pemain Indonesia yang sebenarnya memang sudah sering terjadi. Namun mengingat malam ini lawannya adalah Thailand yang memiliki kecepatan dan pressing ketat, kesalahan-kesalahan tersebut kerap menjadi awal terbentuknya serangan lawan, hal ini menurut saya cukup berpengaruh pada mental pemain yang tetap berusaha tenang.

2. Strategi

Seperti yang saya tuliskan pada postingan sebelumnya saat Indonesia mengalahkan Singapore 1-0, strategi Indonesia bisa dibilang sama saja sejak laga awal melawan Myanmar. Di satu sisi mungkin ini formasi matang dan pakem, namun di sisi lain seperti miskin kreatifitas, 4-2-3-1. Sementara formasi 4-1-4-1 baru dipakai saat sudah menjelang akhir babak ke dua dengan tujuan rotasi pemain, biasanya memasukkan Ilhamudin dan Wawan.

Sementara Thailand sangat atraktif dalam dengan formasi dasar 4-4-2 yang mengandalkan sayap. Dua bek pinggir juga akan melakukan overlap saat menyerang dan langsung berlari jika kehilangan bola.

3. Gaya Bermain

Timnas Indonesia yang mayoritas mantan punggawa U19 sudah biasa kita lihat bermain sangat mendominasi, mengontrol permainan dan tetap tenang meski mendapat pressing ketat. Umpan pendek tiki-taka kerap dipertontonkan sebelum akhirnya menciptakan gol.

Tapi malam ini gaya bermain seperti itu tidak bisa kita lihat karena lawannya adalah Thailand. Kesebelasan yang juga mendominasi dan memperagakan tiki-taka namun bedanya mereka lebih cepat dan cukup dengan satu sentuhan tanpa kontrol atau memutar seperti yang selama ini kita lihat di timnas U19 yang kini bertransformasi menjadi U23.

4. Pergantian Pemain

Pergantian di tim Thailand dimaksudkan sebagai rotasi. Pada babak ke dua saat menit 70 dan sudah unggul 4-0, pelatih Thailand memasukkan beberapa pemain baru. Sementara di kubu Indonesia pergantian pemain hanya sebagai ‘hiburan’ bagi pemain yang selama ini jarang atau tidak dimainkan.

5. Pressing

Thailand menerapkan pressing ketat hingga unggul 4-0 lalu setelahnya mengendorkan serangan pasca beberapa pergantian. Sementara Indonesia sejak awal bermain nyaris tanpa pressing. Inilah yang membuat gawang Indonesia belasan kali diuji. Tiga gol Thailand dengan sundulan adalah hasil dari minimnya pressing pemain belakang Indonesia. Sementara dua lainnya adalah serangan one touch yang tidak biasa dihadapi oleh timnas kita.

6. Rotasi Komentator

Jika di tulisan sebelumnya saya dan banyak orang cukup jengkel dengan komentator antek PSSI, malam ini rupanya ada pergantian. Hasilnya tidak ada lagi komentar sinetron politik pendukung mafia PSSI yang sebelumnya cukup mendominasi.

7. Frustasi

Tertinggal 0-2 sejak babak pertama, pemain Indonesia sudah nampak frustasi. Seringnya salah umpan membuat serangan yang dibangun berakhir sia-sia. Beberapa kali malah melakukan pelanggaran nakal yang selama ini jarang sekali mereka lakukan.

8. Ritual

Setelah peluit babak kedua ditiup dengan hasil kalah 0-5, rupanya tetap ada sujud syukur pemain dan doa berlutut ala Evan Dimas. Sebuah hal positif yang patut ditiru dan dipertahankan. Meski begitu, beberapa pemain lainnya terlihat menjatuhkan diri tanda kecewa atau kelelahan.

Final Thailand vs Myanmar akan sangat menarik karena Myanmar sangat kuat bertahan. Sementara Indonesia akan melawan Vietnam yang secara permainan cukup sama, dan tentu menarik untuk melihat tim mana yang bisa mengendalikan permainan.

Saya pikir Coach Aji perlu sedikit piknik agar tidak selalu monoton. Ilhamudin dan Wawan mungkin akan menarik jika diturunkan sejak menit awal pada laga terakhir nanti. Perunggu not a big deal, tak ada salahnya bereksperimen dengan dua sayap aktif dengan formasi 4-4-1-1 dengan Evan Dimas sebagai gelandang serang. Kalaupun kalah di laga terakhir nanti, setidaknya sudah mencoba, toh kita juga tidak terlalu berharap menang. Cobalah menikmati permainan tanpa terlalu berpikir untuk menang.

Semoga dengan dua tulisan ini pemerintah yang men-take over PSSI bisa melihat dan memperbaiki dengan segera, selain fokus pada legalitas dan komunikasi dengan FIFA.

Alan Budiman

Check Also

Bendera Indonesia Terbalik

Begini Kronologi Malaysia Pasang Bendera Terbalik Di Buku Seagames 2017

Kabarkanlah.com – Kado tragis yang diberikan negara Jiran kita Malaysia begitu telak disaat kita lagi ...

Comments

Tinggalkan Balasan

//