Home / Kabar / Olahraga / Kenapa Permasalahan Olah Raga di Indonesia Begitu Rumit?

Kenapa Permasalahan Olah Raga di Indonesia Begitu Rumit?

Sebarkan:

ayo-indonesia-55d920466e7a61bf048b4567

Nah ini dia! Kalau bicara soal olah raga Indonesia paling sering bikin kita menarik nafas dalam lalu nyengir geleng-geleng kepala. Semua pada gembar-gembor memasang target dengan teramat sangat optimis. Giliran pas tanding hasilnya nol besar. Kalaupun ada yang berprestasi itupun mudah ditebak apa cabang olah raga yang paling dominan mengharumkan nama bangsa. Ya benar, Bulu Tangkis!

Cabang-cabang olah raga selebihnya terkesan kadang muncul kadang hilang tenggelam. Kadang stok atlit ya itu-itu saja orangnya tapi hebatnya itu atlit sanggup bertahan dalam kehidupan yang serba pas-pasan. Demi apa para atlit bertahan? Jelas demi rasa cinta terhadap dunia olah raga dan mimpi besar untuk mengharumkan nama bangsa dan negara di pentas dunia.

Lalu kenapa olah raga Indonesia itu kesannya rumit banget? Kesannya susah sekali di ajak move on. Padahal yang jadi pengurus itu banyak orang-orang pintar. Malah sebagian besar pengurus adalah para pejabat instansi pemerintahan yang katanya juga cinta dunia olah raga. Padahal si pejabat yang jadi manajer tidak tahu babar blas apa yang mesti dikerjakan dilapangan jika terjadi sesuatu pada atlitnya.

Salah kaprah. Selama ini olah raga Indonesia bukannya semakin maju tapi malah semakin mundur. Sementara, ironisnya, penyelenggaraan pesta olah raga mulai dari tingkat regional di daerah-daerah sampai tingkat nasional sekelas PON dan Kejurnas rajin diselenggarakan. Tapi semua even-even olah raga yang diselenggarakan tak lain hanya sebatas kepentingan menjalankan ritual agenda tahunan belaka dan lebih parahnya lagi even-even olah raga dijadikan lahan proyek basah bagi oknum-oknum yang haus ingin turut mencicipi anggaran yang digelontorkan.

Belum cukup sampai disitu. Permainan nakal curi-curi uang sponsor pun bukan lagi hal yang  tabu. Saya sendiri telah menyaksikan secara nyata bagaimana pelatih dan pengurus cabang salah satu cabang olah raga di daerah mencari dana sponsor untuk persiapan kompetisi tapi malah disunat langsung masuk kantong pribadi. Salahkah jika ada oknum pengurus cabang olah raga di suatu daerah turut bermain seperti ini? Secara etika jelas salah. Tapi jangan dulu menyalahkan sepihak saja. Pasti akan muncul pertanyaan kenapa itu terjadi? Apa motivasinya?

Kesejahteraan atlit dan pelatih harus berada di strata terbawah piramida olah raga
Ini yang terbalik di Indonesia. Atlit dan pelatih umumnya berada di strata paling bawah dalam lapisan piramida kemajuan olah raga di Indonesia. Wajar banyak atlit dan pelatih di Indonesia belum hidup sejahtera. Latihan gila bak kuli pasar tapi asupan nutrisi dan pola makan sangat tidak seimbang kebutuhannya.

Jangan heran jika ada ditemukan atlit jatuh sakit lever karena kurang gizi, tidak seimbang pola latihan dan pola makan. Begitu juga pelatih. Nasib pelatih di Indonesia tak lebih hanya sebagai kosmetik pelengkap dadakan dalam setiap even olah raga yang diselenggarakan. Setelah even olah raga selesai barulah pelatih kembali ke pasar, berjualan dipinggir jalan atau kembali menjadi buruh tani dikampung.

Sementara sudah rahasia umum jika para pejabat pengurus daerah dan pusat itu tak lain orang-orang yang bekerja dipemerintahan berstatus sebagai pegawai negeri sipil. Tak ada kegiatan even olah raga sekalipun mereka masih bisa hidup tenang dapat gaji bulanan dari pemerintah. Atlit dan pelatih di Indonesia menurut saya tak ada bedanya dengan mesin yang dipakai ketika dibutuhkan saja. Kalau mesin sudah rusak ya sudah ditinggalkan. Cari barang baru dan proyek agenda even-even olah raga tetap berjalan sebagai tanda kerja Dispora daerah dan Kemenpora semata.

Pejabat pengurus daerah dan pusat berada di strata teratas pramida olah raga
Karena even-even olah raga dipandang sebatas agenda proyek tahunan jangan heran jika banyak pejabat yang berebut ingin mencicipi lahan basah gurihnya anggaran yang digelontorkan. Ini bukan dugaan asal duga semata. Salah satunya mantan Gubernur Riau sudah diringkus KPK tersandung kasus PON 2012.

Nah, kepala daerahnya saja sudah berani bermain apalagi pejabat-pejabat dibawahnya? Dilain hal umumnya ajang pesta olah raga mulai dari tingkat regional sampai nasional seringkali menjadi arena eksis para pejabat daerah maupun pusat. Bukan karena beliau mengerti dan paham benar dengan dunia olah raga apalagi paham pada satu saja cabang olah raga, belum tentu!

Pengalaman konyol yang saya saksikan sendiri adalah ada suatu manajer tim dari daerah lain tidak bisa berbuat apa-apa ketika atlitnya merasa diperlakukan tidak adil dalam penilaian saat berkompetisi. Si manajer cuma bisa duduk bengong saja tidak mendengarkan apa keluhan si atlit. Bukannya cepat respon membantu atlitnya protes ke panitia melalui jalurnya tapi malah membiarkan atlitnya kecewa menerima ketidakadilan penilaian hasil kompetisi salah satu cabang olah raga.

Saking kesalnya si atlit justru malah melaporkan permasalahannya ke saya. Saya terpaksa hanya sebatas bisa mendengarkan keluhannya saja. Ya sebagai mantan atlit jelas saya merasakan kekecewaannya yang teramat dalam. Selidik punya selidik ternyata manajer itu dipiih daerahnya hanya karena numpang tenar dan mengandalkan aji mumpung sebagai pejabat pemerintah yang punya posisi penting. Oknum-oknum seperti ini yang bikin olah raga Indonesia semakin bobrok!

Birokrasi tak kalah rumit serumit mengurus surat-surat di kelurahan
Ini lagi yang paling bikin olah raga Indonesia menjadi momok. Untuk urusan olah raga yang sebenarnya sederhana bisa dibuat serumit-rumitnya. Begitu banyak protokol yang harus dilalui hanya demi mengurus pencairan dana atlit buat nutrisi dan intensif atlit saat menjalankan pelatihan terpusat.

Kadang sampai pelatih harus turun tangan bolak-balik ke Koni mencari informasi kapan dana intensif atlit turun. Sepertinya Koni atau pengda berat sekali mengeluarkan uang yang sebenarnya sudah dianggarkan. Tinggal buka keran mengucurkan dana saja proses birokrasi yang harus dilalui sudah bikin pusing dan pake lama lagi. Ngapain juga itu uang hak orang lain ditahan lama-lama?

Yang jelas-jelas membutuhkan uang dilapangan itu ya atlit, pelatih dan tim official. Jika sampai ada pelatih suka rela ikhlas menombok uang intensif untuk atlitnya ya sangat miris banget kedengarannya walaupun itu fakta! Kalau disusuri lebih dalam lagi sebenarnya banyak penyimpangan-penyimpangan dana anggaran olah raga yang ditilep oleh para oknum dan birokrasi sengaja dibuat berbelit-belit menjadi cerminan sikap arogan, sok elitis dan sok berkuasa terhadap jabatan yang dimilikinya.

Jadi sah-sah saja Indonesia bermimpi bisa unjuk gigi di Olimpiade tapi lihatlah lagi kebelakang persoalan-persoalan klasik mendasar dan sudah menjadi tradisi budaya turun-temurun menjadi brand kebobrokan dunia olah raga Indonesia tercinta.

Salam Olah Raga

Sumber:

http://www.kompasiana.com/denbhaghoese/kenapa-permasalahan-olah-raga-di-indonesia-begitu-rumit_55d920d4d59373b3048b4567

Kabar One

Check Also

0504453iker-casillas-porto-chelsea780x390

Casillas Sebut Messi Lawan Tersulit dan Zidane Rekan Terbaik

Penjaga gawang yang sudah menjadi legenda Real Madrid, Iker Casillas, mengungkapkan siapa lawan tersulit yang ...

Comments

Tinggalkan Balasan

//