Home / Kabar / Politik / Setya Novanto, Yang Dacai, dan Jam Tangan Mereka  

Setya Novanto, Yang Dacai, dan Jam Tangan Mereka  

Sebarkan:

Saat Ketua DPR-RI Setya Novanto dengan riang gembira, tersenyum lebar, bersalaman dengan bakal calon Presiden Amerika Serikat Donald Trump, tangan kanannya yang berjabat tangan dengan Trump diangkat sedikit, pada saat itulah terlihat  jam tangan yang dikenakannya.

Pakar jam tangan mewah mewah pun langsung tahu bahwa jam tangan yang dikenakan Setya itu adalah jam tangan super mewah, mereknya “Richard Mille”.  Tipe seperti yang dikenakan Setya, harganya ditaksir antara Rp. 1 miliar sampai dengan Rp. 2 miliar per buah.

Beruntunglah Setya Novanto itu bahwa dia menjadi pejabat tinggi negara di Indonesia, bukan di Tiongkok. Sebab seandainya dia itu adalah pejabat negara, apalagi pejabat tinggi negara di Tiongkok, maka penampakan jam tangan “Richard Mille”-nya itu pasti akan berurusan panjang, yang berujung petaka baginya. Sementara itu di Indonesia, paling banter hanya dijadikan bahan pergunjingan selama beberapa hari, setelah itu akan lenyap dengan sendirinya ditelan waktu.

Karena di Tiongkok, negara sangat ketat dalam mengawasi gaya hidup para pejabat negaranya. Mereka sudah diperingatkan agar berhenti bergaya hidup mewah. Jika terbukti bergaya hidup boros, berfoya-foya, dan mewah maka sanksinya tegas, dipecat. Peringatan ini tidak bosan-bosannya disampaikan terus oleh pemimpinnya, termasuk yang sekarang, Presiden Xi Jinping.

Setelah dipecat, harta kekayaannya yang digunakan untuk bergaya hidup mewah itu pun diusut, apakah wajar atau tidak, bagaimana dengan pajak yang dibayarkan kepada negara, apakah sesuai dengan harta kekayaan yang dimilikinya itu. Jika tidak, siap-siaplah dia ditahan dengan status sebagai tersangka korupsi, disidangkan, dan jika terbukti bersalah (dan selama ini selalu terbukti bersalah), pasti mendapat hukuman yang berat, tak tertutup kemungkinan hukuman mati.

Presiden Xi Jinping pun sudah berkali-kali memperingatkan para pejabat negaranya bahwa jangan sekali-kali bergaya hidup mewah, tak perduli uang yang dipakai untuk bermewah-mewah itu berasal dari sumber yang legal, ataupun tidak, pejabat negara itu akan dipecat! Kalau terbukti sumber kekayaannya ilegal dari hasil korupsi, urusannya menjadi lebih panjang, sampai berujung penjara, atau hukuman mati.

Pada 2013, misalnya, seorang kepala desa di distrik Chaoyang, diketahui menyelanggarakan pesta pernikahan mewah anaknya, biayanya 1,6 juta Yuan atau sekitar 3 miliar Rupiah.

Pesta pernikahan itu berlangsung selama tiga hari dengan menyediakan mobil dan kapal mewah serta bintang hiburan terkenal untuk menghibur para undangan. Tenda besar dibangun untuk memuat 210 meja tamu, dan perayaan juga digelar di sebuah gedung pertemuan yang pernah dijadikan sarana Olimpiade Beijing 2008.

Komisi Disiplin Partai Komunis Tiongkok yang mendapat laporan dari masyarakat pun melakukan pengusutan, hasilnya, meskipun biaya pesta pernikahan mewah itu bukan dari hasil korupsi, karena dibiayai oleh besannya yang pengusaha kaya, kepala desa itu tetap saja dipecat.

Lain lagi nasib seorang pejabat tinggi Tiongkok, yang bernama Yang Dicai. Dia adalah mantan Kepala Adminstrasi Badan Keselamatan Provinsi Shaanxi, sebuah jabatan yang cukup tinggi di Tiongkok.

Pada Agustus 2012 ia menjadi sorotan masyarakat Tiongkok, dan menjadi bulan-bulan para netizen di sana, karena tertangkap kamera tersenyum di sebuah lokasi kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan korban tewas 36 orang. Ekspresinya itu dianggap publik sebagai sangat tak pantas karena menunjukkan rasa tak punya simpati dan empati kepada keluarga korban yang begitu banyak.

Meskipun ia berupaya mengklarifikasikan dengan argumen bahwa senyumnya itu dimaksud sebagai hiburan buat keluarga korban, tetap saja alasan itu tak diterima publik. Apalagi masyarakat Tiongkok sebelumnya sudah mengenalnya sebagai pejabat tinggi negara yang bergaya hidup mewah dengan koleksi jam tangan mewahnya. Di hampir setiap kesempatan di acara-acara yang berbeda, Yang Dacai terlihat mengenakan jam tangan-jam tangan yang berbeda.

Saking seringnya dia gonta ganti jam tangannya itu, publik pun menjuluki dengan sebutan “Yang si Penggila Arloji”.  Ia pun di-bully oleh para netizen di media sosial, terutama di Weibo (semacam Twitter) dengan berbagai meme yang memperolok-oloknya. Tetapi Yang tetap tegar meneruskan kegemarannya bergonta-ganti jam tangan mewahnya itu.

Menjawab kritikan masyarakat terhadap hobi mahalnya itu, Yang Dacai mengatakan semua jam tangan koleksinya itu diperoleh secara sah, dibeli dari gaji dan penghasilannya yang sah. Tetapi, publik tidak mempercayainya. Sampai akhirnya terjadi kejadian di saat dia mengunjungi lokasi kecelakaan besar itu, dan tertangkap kamera sedang tersenyum lebar di lokasi itu.

Hobinya sebagai pengoleksi jam tangan mewah pun diungkit beramai-ramai, terutama di media sosial. Akhirnya komisi disiplin Partai Komunis Tiongkok dan komisi antikorupsi Tiongkok  pun turun tangan memeriksanya, September 2012.

Hukuman pertama yang dijatuhkan kepada Yang adalah dipecat karena sebagai pejabat negara dia hidup bermewah-mewah. Setelah itu semua kekayaannya diusut. Hasilnya diketahui bahwa kekayaan Yang Dacai itu tidak sesuai dengan profilnya sebagai Kepala Adminstrasi Badan Keselamatan Provinsi Shaanxi. Dia pun dinyatakan sebagai tersangka korupsi, ditahan, dan diadili di pengadilan antikorupsi.

Saat diperintah  hakim untuk membuktikan bahwa Kekayaannya yang meliputi aset senilai 11,77 juta Yuan, atau sekitar Rp. 21 miliar itu diperoleh secara sah, Yang Dacai tidak bisa melakukannya. Dia pun mengaku bersalah telah korupsi.

Pada 5 September 2013, hakim menyatakan Yang Dacai terbukti bersalah melakukan korupsi, yaitu menerima sejumlah suap bernilai puluhan juta Yuan.

Sekarang, kita bandingkan dengan di Indonesia.

Sudah sangat sering kita menyaksikan para pejabat tinggi negara kita, baik yang di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif bergaya hidup mewah di hadapan publik. Mereka  tak segan-segan, tak pernah merasa malu, sebaliknya malah bangga memamerkan kemewahaannya itu ke publik, meskipun publik tahu bahwa kemewahan itu tidak mungkin mereka peroleh hanya dari gajinya sebagai pejabat tinggi negara.

Apakah pamer kemewahan pejabat negara itu bersumber dari penghasilan yang legal, atau ilegal, selama ini kita tak pernah mendengar negara lantas tergerak untuk menjatuhkan sanksi kepada mereka karena pamer kekayaannya itu ke publik, apalagi sampai mengusut kekayaannya itu. Termasuk saat banyak pula dari mereka yang memanfaatkan atau mengakali perjalanan dinasnya yang dibiayai negara itu dengan kepentingan pribadi dan keluarganya, seperti jalan-jalan di luar negeri, dan berbelanja di butik-butik mewah di sana.

Gaya hidup feodalisme pejabat tinggi negara seperti Setya Novanto dengan jalan khusus berkarpet merah untuknya di Gedung DPRD-RI sebagaimana yang pernah saya singgung di artikel sebelumnya, pun bagi negara bukan suatu masalah yang terlalu serius untuk dijatuhi  hukuman.

Oleh karena itulah juga negara pun sedikit pun merasa tak terusik, meskipun publik sudah mengusik, terkait gaya hidup mewah dan feodalisme Ketua DPR-RI Setya Novanto dengan jam tangan super mewahnya bermerek “Richard Mille” itu.

Dibandingkan dengan jam tangan “Richard Mille”-nya Setya Novanto, jam tangan koleksi Yang Dacai tidak ada apa-apanya. Tetapi, karena Yang adalah pejabat negara di Tiongkok, maka dia pun dipecat dengan pamer kemewahannya itu, sedangkan Setya Novanto karena adalah pejabat tinggi negara di Indonesia, maka pamer kemewahan dengan jam tangannya itu bukan sesuatu yang terlalu serius. Jadi, silakan diteruskan, dan boleh dijadikan contoh bagi pejabat negara lainnya. Hukuman di Indonesia, paling banter di-bully di media sosial. *****

 

Artikel terkait:

Kasus Setya Novanto-Donald Trump, Mengungkapkan Sisi Lain Ketua DPR Itu

Di Tiongkok, Gara-gara Tersenyum di Lokasi Kecelakaan, Seorang Pejabat Dipecat

 

Sumber informasi:

China Awasi Gaya Hidup Mewah Pejabat Negaranya

Pejabat Desa di China Dipecat Gara-gara Berpesta Mewah

Pejabat China si Pengoleksi Jam Tangan Mewah Dibui 14 Tahun

http://www.kompasiana.com/danielht/setya-novanto-yang-dacai-dan-jam-tangan-mereka_55f45a12779373bc0b637777

Kabar One

Check Also

289b67af-8cc4-462d-b7da-9a7f1b631399_169

Demo Rohingya Di Borobudur Dilarang Polisi

Kabarkanlah.com – Polisi melarang aksi bela Rohingya di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Hal ini ...

Comments

Tinggalkan Balasan

//