Home / Religi / Islam / SBY,Fahri Hamzah dan Hidayat Nurwahid Sholat Pakai Kaos Kaki Tapi Para Kampret Diam Saja

SBY,Fahri Hamzah dan Hidayat Nurwahid Sholat Pakai Kaos Kaki Tapi Para Kampret Diam Saja

Sebarkan:

sholat pake kaos kaki

Kabarkanlah.com – Orang yang selalu berburuk sangka dengan orang lain pastinya ada yang salah dengan otaknya. Mungkin sedang korslet atau memang sudah rusak sejak lahir.

Demikianlah yang terjadi saat Presiden Jokowi sholat dengan memakai kaos kaki orang tersebut langsung suudzon atau berburuk sangka. Padahal banyak tokoh-tokoh pujaan mereka juga sholat pake kaos kaki.

Sebut saja SBY mantan presiden juga sholat pakai kaos kaki. Terlihat juga dalam foto yang tersebar para anggota dewan sedang sholat ied dan tokoh pujaan mereka seperti Fahri Hamzah dan Hidayat Nurwahid juga memakai kaos kaki dalam sholatnya.

Jadi kalau mau nyerang googling dulu ya, jangan kecintaanmu kepada seprei akhirnya berlaku tidak adil kepada kaos kaki. Demikianlah kata-kata yang beredar di medsos terkait bahasan sholat dengan memakai kaos kaki.




Dalam Islam boleh megusap kaos kaki dengan syarat kaos kaki tersebut bersih dari najis dan menutupi seluruh permukaan kulit, sebagaimana diperbolehkan mengusap khuf. Hal ini berdasarkan sebuah hadits bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah megusap kaos kaki dan sepatu. Begitu juga para sahabat Radhiyallahu ‘anhum biasa mengusap kaos kaki ketika berwudhu. Perbedaan antara kaos kaki dengan khuf adalah khuf terbuat dari kulit, sedangkan kaos kaki biasanya terbuat dari katun atau yang sejenisnya.

Syarat-syarat mengusap khuf dan kaos kaki adalah.
[a]. Khuf dan kaos kaki tersebut benar-benar menutupi permukaan kulit
[b]. Khuf dan kaos kaki tersebut dipakai dalam keadaan suci (sudah berwudhu)
[c]. Khuf dan kaos kaki tersebut dipakai selama sehari semalam bagi orang yang mukim
[d]. Sedangkan bagi musafir, selama tiga hari tiga malam, tehitung dari hadats pertama setelah memakai kaos kaki tersebut.

Hal ini berdasarkan hadits-hadits shahih yang berkenaan dengan hal tersebut.

Diperbolehkan bagi kita untuk shalat dengan memakai sepatu, dengan syarat sepatu tersebut bersih dari najis. Hal ini berdasarkan hadits : Bukhari dan Muslim yang menyatakan bahwa Nabi shalat dengan memakai sepatu atau sandal. Dan juga berdasarkan sebuah hadits riwayat Abu Said Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.




“Artinya : Jika salah seorang diantara kalian masuk masjid, maka balikkanlah sepatu (sandal)nya. Jika ternyata sepatu tersebut terkena najis, maka buanglah najis tersebut lalu shalatlah dengan memakai sepatu tersebut” [HR Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad Hasan]

Akan tetapi apabila masjid tersebut memakai karpet (permadani) maka lebih baik sepatu tersebut dilepas dan diletakkan di tempat sepatu atau sepasang sepatu tersebut ditumpuk lalu diletakkan diantara kedua lututnya agar tidk mengotori karpet dan membuat kotor orag lain. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pebolong kepada kebaikan.

SYARAT-SYARAT MENGUSAP KHUF

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya :Apakah mengusap khuf itu diperbolehkan untuk semua jenis khuf atau harus khuf jenis tertentu?

Jawaban
Mengusap khuf itu diperbolehkan dengan syarat khuf tersebut menutupi seluruh permukaan kulit dari telapak kaki sampai ke mata kaki dan khuf tersebut harus bersih dari najis. Khuf tersebut boleh terbuat dari kulit binatang yang halal seperti unta, sapi, kambing dan lain-lain. Dan khuf tersebut dipakai dalam keadaan suci dari hadats kecil (sesudah berwudhu).

Diperbolehkan mengusap kaos kaki yang terbuat dari katun atau wol atau sejenisnya, dengan syarat kaos kaki tersebut bisa menutupi kedua telapak kaki. Dalam hal ini kaos kaki tersebut hukumnya seperti khuf. Demikianlah pendapat para ulama yang lebih shahih, berdasarkan sebuah hadits yang menyatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum sering mengusap kaos kaki dan sepatu. Kaos kaki dan sepatu dihukumi seperti khuf karena fungsinya sama. Tentu saja hal ini harus sesuai dengan waktu mengusapnya sehari semalam bagi orang mukim dan tiga hari tiga malam bagi musafir terhitung sejak pertama kali mengusap dari hadats berdasar pendapat dari ulama yang paling shahih.

Perlu diketauhi bahwa mengusap khuf itu hanya berlaku untuk menghilangkan hadats kecil saja (kencing, kentut dan buang air besar). Adapun hadats besar tidak bisa dihilangkan dengan mengusap khuf. Orang yang berhadats besar harus melepaskan khuf agar kedua telapak kakinya bisa terbasuh oleh air ketika mandi junub. Hal ini berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Shafwan bin Asal Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata.

“Artinya : Ketika kami dalam keadaan musafir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan apabila kami buang air besar, kencing dan tidur, tidak usah melepas khuf-khuf kami selama tiga hari tiga malam kecuali bagi yang junub”.

Hadits Riwayat An-Nasa’i ; 126, Tirmidzi : 89 lafal ini darinya dan Ibnu Khuzaimah dan dishahihkan oleh keduanya, sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram.

Yang dimaksud dengan hadats besar adalah junub, haid dan nifas, sedangkan hadats kecil adalah kencing, kentut dan selainnya dari pembatal-pembatal wudhu Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala maha penolong

BATALNYA MENGUSAP KHUF APABILA KHUF TERSEBUT DILEPAS

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Ada seorang laki-laki yang berwudhu dengn mengusap kaos kakinya, kemudian dia melepas kaos kaki tersebut ketika kakinya bau. Lalu dia shalat dan tidak membasuh kedua kakinya. Bagaimana hukum shalatnya dalam keadaan seperti ini?

Jawaban
Apabila dia melepas kaos kaki tersebut dalam keadaan masih mempunyai wudhu yang pertama (belum berhadats dari pertama kali dia memakai kaos kaki), maka berarti dia masih mempunyai wudhu dan lepasnya kaos kaki tersebut tidak berpengaruh apa-apa.

Tetapi apabila dia melepas kaos kaki tersebut setelah dia berhadats maka hukumnya batal dan dia harus mengambil air wudhu lagi seperti biasa, karena hukum bolehnya mengusap khuf akan hilang apabila khuf tersebut dilepas. Demikianlah pendapat para ulama yang paling shahih. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Penolong pada kebenaran.

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Tsani, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Edisi Indonesia Fatawa bin Baaz, Penerjemah Abu Abdillah Abdul Aziz, Penebit At-Tibyan Solo]
admin

admin

Check Also

lembagafatwamesir

Lembaga Fatwa Mesir Bolehkan Pemimpin dari Non Muslim

Kabarkanlah.com – Juru bicara tim sukses Ahok- Djarot, Guntur Romli menyebut fatwa terbaru dari surah ...

Comments

Tinggalkan Balasan

//