Home / Humaniora / Filsafat / Kopi di Dinding

Kopi di Dinding

Sebarkan:

coffee-cappuccino-foam-cinnamon-corn

Sepasang wisatawan asyik menikmati kopi di sebuah kafe terkenal di Venesia, Italia. Tak lama kemudian, datanglah seorang pria paruh baya, duduk di salah satu meja kosong. Ia memanggil pramusaji dan memesan : “Kopi 2 cangkir. Yang 1 untuk di dinding.”

Sang wisatawan merasa heran mendengar kalimat tersebut. Apalagi sang pria kemudian hanya disuguhi 1 cangkir kopi, namun ia membayar untuk 2 cangkir.

Segera setelah pria tersebut pergi, si pramusaji menempelkan selembar kertas kecil bertuliskan “Segelas Kopi” di dinding kafe.

Suasana kafe kembali hening. Tak lama kemudian masuklah dua orang pria. Kedua pria tersebut pesan 3 cangkir kopi. Dua cangkir di meja, satu lagi untuk di dinding. Mereka pun membayar tiga cangkir kopi sebelum pergi.

Lagi-lagi setelah itu pramusaji melakukan hal yang sama, menempelkan kertas bertulis “Segelas Kopi” di dinding.

Pemandangan aneh di kafe sore itu membuat pasangan wisatawan itu heran. Mereka meninggalkan kafe dengan menyimpan pertanyaan atas kejadian ganjil yang disaksikannya, namun ia tidak sempat mengajukan pertanyaan, apa yang dimaksud dengan kopi di dinding tadi.

Minggu berikutnya, mereka mampir kembali di kafe yang sama. Mereka melihat, seseorang lelaki tua masuk ke dalam kafe. Pakaiannya kumal dan kotor. Setelah duduk ia melihat ke dinding dan berkata kepada pelayan : “Satu cangkir kopi dari dinding.”

Pramusaji segera menyuguhkan segelas kopi. Setelah menghabiskan kopinya, lelaki lusuh tadi lantas pergi tanpa membayar. Tampak si pramusaji menarik satu lembar kertas dari dinding tersebut, lalu membuangnya ke tempat sampah.;

Kini pertanyaan pasangan wisatawan itu terjawab sudah.

Begini rupanya cara penduduk kota ini menolong sesamanya yang kurang beruntung, dengan tetap menaruh respek kepada orang yang ditolongnya. Kaum papa bisa menikmati secangkir kopi tanpa perlu merendahkan harga diri untuk mengemis secangkir kopi. Bahkan mereka pun tidak perlu tahu siapa yang “mentraktirnya”.
Suatu tatanan hidup bermasyarakat yang amat menyentuh dan mengharukan.

Bak guru besar yang mengajarkan bahwa kita tidak bisa hidup lebih baik tanpa memberi dan menerima cinta, perhatian, dan bantuan dari orang lain.
*“Terlalu sering kita meremehkan kekuatan sebuah sentuhan, sekilas senyuman, sebuah kata, mendengar keluhan orang lain, pujian tulus atau tindakan kecil membantu orang lain, yang semua itu punya kekuatan untuk mengubah kehidupan,”* katanya.

Secangkir kopi di dinding adalah wujud cinta yang ikhlas kepada kaum dhuafa, tanpa menyikapi kaum dhuafa dengan cara arogan : *_aku memberi kepadamu._*

*Tidak penting seberapa banyak kita sudah memberi yang lebih penting adalah bagaimana cara kita memberi….*

admin

admin

Check Also

Ibu Susi Pujiastuti Menteri Perikanan dan Kelautan

Ibu Susi Menteri “Gila”

Wah judulnya serem ya, kenapa kok bu Susi dibilang menteri “gila”. Julukan ini bukan dari ...

Comments

Tinggalkan Balasan

//